Pertanian

Laporan Praktikum Pengolahan Air

Laporan Praktikum Pengolahan Air.

Categories: Pertanian | Leave a comment

Laporan Praktikum Pengolahan Air

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Prinsip keja irgasi tetes adalah  pemberian air ke tanah untuk pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman, dengan cara meneteskan air melalui emiter, yang mengarah langsung pada zona perakaran. Irigasi tetes merupakan pengembangan dari irigasi yang sudah ada sebelumnya, misalnya saja irigasi permukaan, irigasi pancar dll. Irigasi ini sangatlah efektif untuk efisiensi penggunaan air, karena sasaran irigasi tetes ini langsung ke akar sehingga kecil kemungkinan air mengalami penguapan.

Di Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia. Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk bisnis sayuran. Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya. Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik..

Dalam kegiatan budidaya pertanian, berbagai macam faktor memiliki peran serta dalam keberhasilan usaha budidaya tersebut. Salah satu faktor yang tidak dapat dilupakan dan ditinggalkan yaitu permasalahan tentang kebutuhan air yang diperlukan oleh tanaman. Air merupakan unsur kedua yang memiliki peranan penting dalam keberhasilan usaha budidaya pertanian di lahan setelah tanah. Peran tersebut sangat fundamental dan harus selalu terpenuhi. Jika kebutuhan air yang seharusnya telah diberikan pada tanaman belum juga terpenuhi, maka hal tersebut akan menjadi salah satu faktor pembatas dalam keberhasilan usaha budidaya tersebut.
Beberapa literature (Roscher, 1990) mengatakan hanya sekitar 10% dari air yang diberikan yang diserap oleh akar tanaman, selebihnya (90%) terbuang melalui perkolasi, evaporasi dan lain-lain. Selain itu bila penempatan mesin pompa air terlalu berdekatan, pada beberapa hari kemudian air menjadi sulit untuk dihisap, sehingga penggunaan mesin pompa menjadi mubasir.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas maka dipilih alternatif untuk menggunakan sistem irigasi hemat air yaitu sistem irigasi tetes dengan pengadaan bahan baku jaringan seluruhnya berasal dari daerah tersebut. Sistem irigasi tetes dapat mencapai efisiensi 95% dalam penyerapan air oleh tanaman. Jaringan irigasinya menggunakan pipa-pipa PVC/Paralon yang kemudian air dikeluarkan dari pipa dengan menggunakan penetes ulir plastik sebagai regulator penetes, yang diteteskan di dekat tanaman. Sumber air berasal dari sumur bor pantek yang dihisap dengan pompa air listrik.

Perhitungan jumlah keperluan air bagi kelangsungan hidup tanaman atau sering diistilahkan dengan modulus irigasi, adalah merupakan suatu tahapan perhitungan yang mengawali perancangan suatu sistem irigasi baik yang bersifat terbuka dengan mengandalkan hukum gravitasi maupun yang bersifat tertutup dengan perpipaan yang dilengkapi dengan teknik pemompaan untuk dapat memberikan tekanan yang cukup bagi pangaliran airnya.
Modulus irigasi suatu tanaman, didalam perhitungannya belum memasukkan factor efisiensi karena kehilangan air akibat sistem irigasi yang digunakan seperti evaporasi, perkolasi dll. Modulus irigasi dari suatu tanaman akan berbeda dengan tanaman lainnya, juga tidak kalah pentingnya adalah keadaan curah hujan dan evapotranspirasi di lokasi kegiatan budidaya berlangsung. Analisis modulus irigasi dilakukan setelah pola tanam dan kalender tanam dari tanaman yang akan dibudidayakan ditentukan. Pola tanam dan kalender tanam yang baik akan mengoptimalkan modulus irigasi dari setiap jenis tanaman, dengan demikian akan mengoptimalkan pula efisiensi penggunaan air irigasi.

Suatu luasan lahan yang ditanami berbagai jenis tanaman akan memerlukan penanganan managemen air irigasi yang cukup kompleks dan harus terpadu untuk dapat terpenuhinya kebutuhan air bagi pertumbuhan berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan. Oleh karena itu selain dari analisis perhitungan modulus irigasi perlu pula dilakukan analisis perhitungan interval irigasi yang tergantung dari jenis tanah lahan yang dibudidayakan terutama laju deplesi kandungan air tanahnya.

Perancangan sistem irigasi tetes meliputi perancangan layout jaringan perpipaan beserta pompa air dsb., perancangan kalender tanam dan pola tanam, perhitungan kebutuhan air irigasi pada tingkat tanaman (modulus irigasi), perhitungan maximum interval irigasi, perhitungan maximum lama penyiraman, perhitungan kebutuhan debit dan daya pompa untuk operasional sistem tersebut. Perhitungan Reference Crop Evapotranspiration (ETo) menggunakan metoda Blaney-Criddle. Untuk mengetahui jarak optimal penempatan pompa air untuk tujuan irigasi sistem tetes pada sumur pompa yang satu dengan yang lainnya pada luasan lahan yang sama, digunakan pendekatan persamaan aliran air ke dalam sumur dengan kondisi aliran air yang tetap pada aquifer phreatic dan semi-tertekan.

Contoh irigasi tetes

Berbagai macam cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air yang diperlukan oleh tanaman tersebut terdiri dari berbagai macam cara, dan prinsip yang berbeda beda. Permasalan tentang air menjadi sangat penting saat musim kemarau. Kegiatan pemenuhan kebutuhan air bagi tanaman atau menyiram tanaman di musim kemarau bagi sebagian petani tradisional menjadi rutinitas yang cukup merepotkan. Mulai dari mengambil air dari sumbernya, mengangkutnya ke kebun, hingga menyiramkannya satu per satu pada setiap tanaman. hal tersebut yang selalu dianggap sebagai aktivitas yang melelahkan.

Namun bagi petani yang paham teknologi kegiatan menyiram tanaman menjadi hal yang mudah dan praktis, tinggal putar kran maka semua tanaman pun akan tersiram secara merata.
Salah satu cara mempermudah rutinitas penyiraman tersebut adalah dengan penerapan sistem irigasi tetes (drip irrigation). Irigasi tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan emitor. Irigasi tetes telah digunakan pada zaman kuno dengan mengisi pot tanah liat yang terkubur dengan air, yang pelan-pelan merambat ke rumput. Jaringan irigasinya menggunakan pipa-pipa PVC/Paralon yang kemudian air dikeluarkan dari pipa dengan menggunakan penetes ulir plastik sebagai regulator penetes, yang diteteskan di dekat tanaman. Sumber air berasal dari sumur bor pantek yang dihisap dengan pompa air listrik.

Irigasi tetes pertamakali digunakan di kawasan gurun dimana air sangat langka dan berharga. Pada pertanian skala besar, irigasi tetes cocok untuk sistem pertanian berjajar, untuk buah-buahan, juga sistem irigasi di dalam greenhouse. Irigasi tetes juga menjadi sarana penting di negara-negara maju di seluruh dunia dalam mensiasati pasokan air yang terbatas. Drip irrigation dirancang khusus untuk pertanian bunga-bungaan, sayuran, tanaman keras, greenhouse, bedengan, patio dan tumbuhan di dak. Selain oleh petani tradisional, sistem mikro irigasi ini cocok untuk kebun perkotaan, sekolah, rumahan, operator greenhouse. Pada dasarnya siapapun yang bercocok tanam yang butuh pengairan yang tepat dan efisien, bisa menggunakan sistem ini.
Sistem irigasi tetes cepat dan mudah dirakit. Komponennya utama adalah pipa paralon dengan dua ukuran yang berbeda. Yang berdiameter lebih besar digunakan sebagai pipa utama, sementara yang lebih kecil digunakan sebagai pipa tetes. Pipa utama berfungsi sebagai pembagi air ke setiap pipa tetes. Pipa tetes diberi lubang-lubang untuk meneteskan air ke setiap tanaman dengan jarak sesuai jarak antar tanaman. Untuk mengalirkan air dari sumbernya diperlukan pompa air, juga dilengkapi kran dan saringan air ke pipa utama, tidak lupa pipa konektor untuk sambungan. Untuk instalasi sistem perpipaan memang membutuhkan biaya. Tapi banyak alternatif yang layak dicoba selain menggunakan pipa-pipa dan pompa. Contoh irigasi tetes yang paling sederhana adalah dengan menggunakan bambu yang dilubangi antar ruasnya atau memanfaatkan botol plastik bekas kemasan air mineral yang diletakkan terbalik.
Dibandingkan dengan sprinkler atau penyiram taman sistem semprot perlu jumlah air yang banyak. Diperlukan sebanyak 400 galon air per jam, sementara tanah tidak diberi waktu untuk menyerap air. Hasilnya air lolos di permukaan mengakibatkan erosi. Sementara dengan irigasi tetes air bisa dihemat hingga 50%. Drip irrigation tidak membuang-buang air, tidak menyebabkan erosi dan sedikit air yang menguap. Air memiliki waktu untuk menyerap ke dalam dan secara kapiler ke seluruh area perakaran. Hasilnya irigasi tetes memiliki efisiensi hingga 95% dibanding sistem sprinkler yang hanya 50% – 65%. Dengan penambahan pengatur waktu (timer) yang diprogram, sistem irigasi mikro ini secara otomatis akan menyiram tanaman dengan jumlah air yang tepat setiap hari sementara anda bisa berleha-leha di rumah atau bisa tenang bepergian.
Salah satu rahasia membuat tanaman subur dan sehat adalah dengan cara mengalirkan air yang sering sampai ke dalam akar. Sistem irigasi tetes sangat bagus digunakan untuk tanaman bunga, sayuran, pohon, semak dan tanaman rumah kaca, karena sytemnya yang terus menerus mengalirkan air tetes demi tetes. dengan menggunakan sytem ini kita akan banyak sekali menghemat waktu dan uang karena kita tidak perlu menyiram air berlebihan setiap waktu yang hal ini akan sangat memboroskan pasokan air dan membuat tanaman rusak.
Sangat mudah untuk mengotomatisasi irigasi tetes dengan menambahkan baterai yang dioperasikan timer dan menghemat waktu Anda yang berharga untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Digital timer dapat diatur untuk mengaktifkan secara otomatis pada setiap saat, siang dan untuk selama diperlukan.

Sistem irigasi tetes bekerja dengan tekanan rendah, volume rendah penyemprot yang ideal untuk menjaga tanaman benih basah. Penggunaannya sangat mudah. dengan dilengkapi baterai untuk mengotomatiskan irigasi tetes yang dioperasikan dengan timer sehingga menghemat waktu anda yang berharga untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Digital timer dapat diatur untuk mengaktifkan secara otomatis pada setiap saat, siang dan untuk selama diperlukan.
Manfaat dengan melakukan irigasi tetes ini, adalah :

(1) menyediakan air selama musim kemarau;

(2) membantu penyimpanan air dan menghemat persediaan air selama seminggu;

(3) menyalurkan air ke tempat yang kami inginkan; dan yang terpenting

(4) mengusahakan tanah tempat media tumbuh tanaman selalu basah terairi tetesan air dan cukup untuk mengairi tanaman buah atau tanaman lain di halaman belakang rumah kami yang ada di dalam pot.

Dengan meningkatnya kebutuhan air di bidang pertanian dan bidang lain,

sedangkan potensi air terus menurun, menuntut suatu usaha untuk pemanfaatan air

di bidang pertanian secara hemat dan efisien. Untuk itu diperlukan sistem irigasi

yang dapat menekan atau meniadakan kehilangan air melalui evaporasi, perkolasi,

dan aliran permukaan, tanpa menurunkan produktivitas lahan (Murty, 2002).

Sistem irigasi adalah suatu sistem pengairan tanaman atau suatu sistem yang diciptakan untuk menyuplai atau memberikan air bagi kebutuhan tanaman yang dapat dilakukan dengan lima cara diantaranya; (1) dengan penggenangan (flooding); (2) dengan menggunakan alur, besar atau kecil; (3) dengan menggunakan air di bawah permukaan tanah melalui sub irigasi, sehingga

menyebabkan permukaan air tanah naik; (4) dengan penyiraman (sprinkling); atau dengan sistem cucuran (trickle) (Hansen dkk, 1986). Sistem irigasi merupakan suatu sistem pengairan tepat guna yang memiliki dua fungsi, yaitu fungsi umum dan fungsi spesifik. Secara garis besar, fungsi umum dari suatu sistem irigasi adalah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, sedangkan fungsi spesifik dari sistem irigasi diantaranya; mengambil air dari sumber (diverting), membawa/mengalirkan air dari sumber ke lahan pertanian (conveying), mendistribusikan air kepada tanaman (distributing) dan mengatur dan mengukur aliran air (regulating and measuring).

1.2 Tujuan

Agar mahasiswa mengetahui manfaat dan cara menggunakan irigasi tetes bagi tanaman yang dapat bermanfaat untuk menjaga kelembaban tanah dan mampu mempertahankan pada tingkat yang optimal bagi pertumbuhan tanaman.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Irigasi Tetes

Irigasi tetes adalah suatu sistem untuk memasok air (dan pupuk) tersaring ke dalam tanah melalui suatu pemancar (emitter). Irigasi tetes menggunakan debit kecil dan konstan serta tekanan rendah. Air akan menyebar di tanah baik ke samping maupun ke bawah karena adanya gaya kapiler dan gravitasi. Bentuk sebarannya tergntung jenis tanah, kelembaban, permeabilitas tanah, dan jenis tanaman (Keller dan Bliesner, 1990).

Pemberian air pada irigasi tetes dilakukan dengan menggunakan alat aplikasi yang dapat memberikan air dengan debit yang rendah dan frekuensi yang tinggi (hampir terus menerus) disekitar perakaran tanaman. Tekanan air yang masuk ke alat aplikasi sekitar 1,0 bar dan dikeluarkan dengan tekanan mendekati nol untuk mendapatkan tetesan yang terus menerus dan debit yang rendah.

Sehingga irigasi tetes diklasifikasikan sebagai irigasi bertekanan rendah. Sistem irigasi tetes didesain untuk dioperasikan secara harian (minimal 12 jam per hari) dan tingkat kelembaban tanaman dapat diatur.

Irigasi tetes mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

a. Meningkatkan nilai guna air

Secara umum, air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit dibandingkan dengan metode lain

b. Meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil

Dengan irigasi tetes, kelembaban tanah dapat dipertahankan pada tingkat yang

optimal bagi pertumbuhan tanaman

c. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemberian

Pemberian pupuk dan bahan kimia pada metode ini dicampur dengan air irigasi, sehingga pupuk atau bahan kimia yang digunakan menjadi lebih sedikit, frekuensi pemberian lebih tinggi dan distribusinya hanya di sekitar daerah perakaran

d. Menekan resiko penumpukan garam

Pemberian air secara terus-menerus akan melarutkan dan menjauhkan garam dari daerah perakaran

e. Menekan pertumbuhan gulma

Pemberian air pada irigasi tetes hanya terbatas di daerah sekitar tanaman, sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan

f. Menghemat tenaga kerja

Sistem irigasi tetes dapat dengan mudah dioperasikan secara otomatis, sehingga tenaga kerja yang diperlukan lebih sedikit (James, 1982).

2.1.1 Komponen Irigasi Tetes

A. Jaringan pipa pada irigasi tetes

Pipa yang digunakan pada irigasi tetes terdiri dari pipa lateral, pipa sekunder dan pipa utama komponen penting dari irigasi tetes. Tata letak dari irigasi tetes dapat sangat bervariasi tergantung kepada berbagai faktor seperti luas tanah, bentuk dan keadaan topografi. Irigasi tetes tersusun atas dua bagian penting yaitu pipa dan emiter. Air dialirkan dari pipa dengan banyak percabangan yang biasanya terbuat dari plastik yang berdiameter 12 mm (1/2 inci) – 25 mm (1 inci) (Hansen dkk, 1986).

Pipa utama (main line, head unit) terdiri dari pompa, tangki injeksi, filter utama, pengukur tekanan, pengukuran debit dan katup pengontrol. Pipa utama umumnya terbuat dari pipa polyvinylchloride (PVC), galvanized steel atau besi cord yang berdiameter antara 7,5 – 25 cm. Pipa utama dapat dipasang di bawah permukaan tanah (Prastowo, 2003). Pipa pembagi (sub-main, manifold) dilengkapi dengan filter kedua yang lebih halus (80-100 m), katup solenoid, regulator tekanan, pengukur tekanan dan katup pembuang. Pipa sub-utama terbuat dari pipa PVC atau pipa HDPE (high density polyethylene) dan diameter antara 50 – 75 mm. Penyambungan pipa pembagi dengan pipa utama (Prastowo, 2003).

Pipa lateral umumnya terbuat dari pipa PVC fleksibel atau pipa politeline dengan diameter 12 mm – 32 mm. Emiter dimasukkan ke dalam pipa lateral pada

jarak yang ditentukan yang dipilih sesuai dengan tanaman dan kondisi tanah. Pipa lubang ganda, pipa porous dan pipa dengan perforasi yang kecil digunakan pada beberapa instalasi untuk menggunakan keduanya sebagai pipa pembawa dan sebuah emitter system (Hansen dkk, 1986). Menurut Keller dan Bliesner (1990) dalam sistem irigasi tetes tersusun atas pipa dan emiter. Air dialirkan dari pipa dengan banyak percabangan yang biasanya terbuat dari plastik yang diameter 12 mm (1/2 inci) – 25 mm (1 inci).

B. Emiter

Emiter merupakan alat pengeluaran air yang disebut pemancar. Emiter mengeluarkan air dengan cara meneteskan air langsung ke tanah ke dekat tanaman. Emiter mengeluarkan air hanya beberapa liter per jam. Dari emiter air keluar menyebar secara menyamping dan tegak oleh gaya kapiler tanah yang diperbesar pada arah gerakan vertikal oleh gravitasi. Daerah yang dibasahi emiter tergantung pada jenis tanah, kelembaban tanah, permeabilitas tanah. Emiter harus menghasilkan aliran yang relatif kecil menghasilkan debit yang mendekati konstan. Penampang aliran perlu relatif lebar untuk mengurangi tersumbatnya emiter (Hansen dkk, 1986).

Menurut Keller dan Bliesner (1990) emiter merupakan alat pembuangan air, emiter dipasang di dekat tanaman dan tanah. Semakin dekat ke tanah semakin efisien air yang diterima tanah dan tanaman karena semakin besar daerah yang terbasahi semakin tinggi kelembaban tanah. Semakin dekat jarak emiter maka semakin banyak daerah yang terbasahi.

Berdasarkan pemasangan di pipa lateral, penetes dapat menjadi (a) on-line emitter, dipasang pada lubang yang dibuat di pipa lateral secara langsung ataudisambung dengan pipa kecil; (b) in-line emitter, dipasang pada pipa lateraldengan cara memotong pipa lateral. Penetes juga dapat dibedakan berdasarkanjarak spasi atau debitnya, yaitu (a) point source emitter, dipasang dengan spasiyang renggang dan mempunyai debit yang relatif besar; (b) line source emitter,dipasang dengan spasi yang lebih rapat dan mempunyai debit yang kecil. Pipa

porous dan pipa berlubang juga dimasukkan pada kategori ini (Prastowo, 2003).

C. Tabung marihot

Tabung Marihot merupakan tabung untuk mengalirkan air dengan head sesuai dengan rancangan (20 cm – 250 cm). Prinsip kerja tabung marihot adalahpengaliran air dengan tekanan atmosfir atau dengan kata lain low pressure,sehingga air yang keluar pada setiap emiter akan seragam (Tusi, 2006).

Menurut Tusi (2006) tabung marihot digunakan sebagai wadah atau tangki air irigasi (dan larutan nutrisi) yang dapat mengalirkan aliran debit tetap, dan debit akan berubah pada elevasi yang berbeda (pada head yang berbeda). Bagian dari tangki dilengkapi dengan selang-selang kecil untuk saluran pemasukan udara dan saluran pengairan.

Cara kerja tabung marihot yaitu udara luar yang mempunyai tekanan 1 atm masuk ke dalam tabung marihot melalui lubang masuk udara, karena berat udara yang lebih ringan dari larutan nutrisi (air irigasi) maka udara luar yang masuk akan naik ke bagian atas tabung marihot. Udara yang berada di bagian atas tabung akan menekan air irigasi (larutan nutrisi) yang ada dalam tabung marihot dengan tekanan tetap sebesar 1 atm sehingga larutan nutrisi akan mengalir keluar melalui lubang pengaliran dengan kecepatan yang tetap. Adanya tekanan udara dan beda head yang tetap ini akan menyebabkan kecepatan aliran nutrisi tetap.

 D. Tekanan

Menurut Erizal (2003) keseragaman pemberian air ditentukan berdasarkan variasi debit yang dihasilkan emiter. Karena debit merupakan fungsi dari tekanan operasi, maka variasi tekanan operasi merupakan faktor keseragaman aliran. Oleh karena tekanan berpengaruh pada debit emiter maka semakin besar tinggi air tangki penampungan akan semakin tinggi pula tekanan. Sehingga debit akan semakin besar.

E. Debit

Debit adalah banyaknya volume air yang mengalir per satuan waktu. Pada irigasi tetes debit yang diberikan hanya beberapa liter per jam. Umumnya debit rata-rata dari emiter tersedia dari suplier peralatan. Debit untuk irigasi tetes bergantung dari jenis tanah dan tanaman. Debit irigasi tetes yang umum digunakan 4 ltr/jam, namun ada beberapa pengelolaan pertanian menggunakan debit 2, 6, 8 ltr/jam. Penggunaan debit berdasarkan jarak tanam dan waktu operasi

(Keller dan Bliesner, 1990). Debit air keluaran emiter rata-rata adalah volume dari keseluruhan air yang tertampung dari semua emiter per satuan waktu dan jumlah emiter yang ada.

 F. Keseragaman Irigasi

Menurut Sapei (2003), keseragaman aplikasi air merupakan salah satu faktor penentu efisiensi irigasi yang dihitung dengan persamaan koefisiensi

G. Tingkat Pembasahan

Parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat pembasahan tanah adalah persentase terbasahkan (Pw, wetted percentage), yaitu merupakan nisbah antara luas areal yang terbasahkan (pada kedalaman 15-30 cm dari permukaan tanah). Persentase terbasahkan dipengaruhi oleh debit dan volume pemberian air dari setiap alat aplikasi, spasi alat aplikasi dan jenis tanah.

H. Efisiensi Penyebaran Irigasi Tetes

Dalam pemberian air irigasi adalah distribusi air irigasi normal yag merata pada daerah perakaran. Pada hampir seluruh keadaan, makin merata air yang didistribusikan makin baik reaksi tanaman. Penyebaran air yang tidak sama mengandung banyak karakteristik yang tidak diinginkan. Daerah yang kering terlihat perbedaan yang diberi air irigasi secara tidak merata kecuali kelebihan air yang tidak digunakan, yang sebaliknya berakibat pada pemborosan air.

Apabila ada kecenderungan untuk akumulasi garam, daerah tersebut yang menerima air lebih sedikit dari kedalaman air yang diinginkan akan menunjukkan akumulasi garam yang paling besar.

2.2 Sawi pakcoy (Brassica rapa)

Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran), baik segar maupun diolah. Sawi mencakup beberapa spesies Brassica yang kadang-kadang mirip satu sama lain.

Di Indonesia penyebutan sawi biasanya mengacu pada sawi hijau (Brassica rapa) kelompok parachinensis, yang disebut juga sawi bakso, caisim, atau caisin). Selain itu, terdapat pula sawi putih (Brassica rapa kelompok pekinensis, disebut juga petsai) yang biasa dibuat sup atau diolah menjadi asinan. Jenis lain yang kadang-kadang disebut sebagai sawi hijau adalah sesawi sayur (untuk membedakannya dengan caisim). Kailan (Brassica oleracea kelompok alboglabra) adalah sejenis sayuran daun lain yang agak berbeda, karena daunnya lebih tebal dan lebih cocok menjadi bahan campuran mi goreng. Sawi sendok (pakcoy atau bok choy) merupakan jenis sayuran daun kerabat sawi yang mulai dikenal pula dalam dunia boga Indonesia.

2.2.1 Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Capparales
Famili: Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus: Brassica
Spesies: Brassica rapa var. parachinensis L.

2.2.2 Kebutuhan Air Tanaman

A. Kebutuhan air tanaman teoritis

Kebutuhan air tanaman adalah jumlah air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan evapotranspirasi tanaman agar tanaman dapat tumbuh dengan baik (Doorenbos and Pruitt, 1984).

B. Kebutuhan air tanaman riil

Kebutuhan air tanaman riil adalah besarnya pemakaian air untuk metabolisme tanaman yang ditentukan dengan mengukur volume pemakaian air oleh tanaman. Permatasari (2001) menyimpulkan bahwa kebutuhan air tanaman riil lebih kecil dari kebutuhan air tanaman teoritis.

Jika air bebas diberikan kesempatan merambah ke dalam suatu kolom tanah yang kering dan posisi mendatar dan yang mempunyai keragaman struktur berat isi, tingkat kekeringan, maka akan menunjukkan hubungan yang erat antar jarak perambatan, kecepatan, dan waktu yang diperlukan untuk mencapai jarak tersebut (Kertonegoro dkk, 1998).

C. Tingkat Produktivitas Tanaman

Tingkat produktivitas tanaman dihitung berdasarkan berat tanaman keseluruhan (akar, batang, daun) secara langsung di lapangan, yaitu dengan menimbang tanaman setelah di panen. Pengukuran berat masing-masing tanaman pada setiap polibag bertujuan untuk mengetahui berat tiap tanaman apakah memiliki berat yang merata atau tidak.

BAB 3

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan waktu

            Adapun pelaksanaan praktikum pengelolaan air ini dilaksanakan di samping laboratorium mekanisasi pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Riau.

Hari/tanggal : dilaksanakan dari bulan Mei – Juni 2012.

3.2 Alat dan Bahan

v  Alat

  • Kayu
  • Polibag
  • Ember
  • Selang infus
  • Selang irigasi
  • Gergaji besi
  • Penggaris
  • Alat tulis

 

Bahan

  • Air
  • Pupuk
  • Tanah
  • Benih caisim yang sudah disemai
  • Pupuk kandang

3.3 Cara Kerja

1)      Sediakan alat dan bahan yang akan digunakan pada saat praktikum

2)      Isilah polibag yang berukuran 3 kg dengan campuran tanah dan pupuk kandang.

3)      Buatlah jaringan irigasi sesuai dengan struktur yang telah diberikan.

4)      Sambungkanlah selang infus yang telah disediakan dengan pipa jaringan irigasi.

5)      Letakkan polibag tepat dibawah selang infus dan ikatkan dengan kayu sehingga selang infus tidak bergeser kesana kemari.

6)      Aturlah tetesan air sesuai dengan kelompok.

7)      Tanam lah benih caisim yang telah disemai dengan jarak 10 cm dan 5 cm sebanyak 4 buah.

8)      Campurlah air penyiraman dengan pupuk.

9)      Kemudian amatilah parameter dari tinggi tanaman, jumlah daun dan persentase kehidupan dari masing-masing tanaman setiap minggu .

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Pemberian air sebanyak 19 tetes permenit

Tabel Pengamatan Tanaman Caisim

Minggu ke – 1

                 Parameter

Tanaman

Tinggi

Tanaman

Jumlah

Daun

Persentase

kehidupan

Tanaman 1

8

4

 

75 %

Tanaman 2

11

6

Tanaman 3

7,5

2

 

 

Minggu ke – 2

Parameter

Tanaman

Tinggi

Tanaman

Jumlah

Daun

Persentase

Kehidupan

Tanaman 1

10

4,5

 

75 %

Tanaman 2

19

4,5

 

Minggu ke – 3

Parameter

Tanaman

Tinggi

Tanaman

Jumlah

Daun

Persentase

Kehidupan

Tanaman 1

12

6,6

 

75 %

Tanaman 2

22

6,6

 

4.2 Pembahasan

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian air irigasi dengan menggunakan irigasi tetes sebanyak 19 tetes per menit pertumbuhannya bagus, karena dengan sistem irigasi tetes maka :

  • Meningkatkan nilai guna air

Secara umum, air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit dibandingkan dengan metode lain.

  • Meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil
  • Dengan irigasi tetes, kelembaban tanah dapat dipertahankan pada tingkat yang optimal bagi pertumbuhan tanaman.
  •  Meningkatkan efisiensi dan pemberian

Pemberian pupuk dan bahan kimia pada metode ini dicampur denagn air irigasi, sehingga pupuk atau bahan kimia yang digunakan menjadi lebih sedikit, fekuensi pemberian dan distribusinya hanya di sekitar daerah perakaran.

  •  Menekan resiko penumpukan garam

Pemberian air secara terus-menerus akan melarutkan dan menjauhkan garam dari daerah perakaran.

  •  Menekan pertumbuhan gulma

Pemberian air pada irigasi tetes hanya terbatas di daerah sekitar tanaman, sehingga pertumbuhan gulma dapat ditekan.

  • Menghemat tenaga kerja

Sistem irigasi tetes dapat dengan mudah dioperasikan secara otomatis, sehingga tenaga kerja hanya diperlukan lebih sedikit.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Prinsip dasar irigasi tetes adalah memompa air dan mengalirkannya ke tanaman dengan perantaraan pipa-pipa yang dibocorkan tiap 15 cm (tergantung jarak antartanaman). Penyiraman dengan sistem ini biasanya dilakukan dua kali sehari pagi dan petang selama 10 menit. Sistem tekanan air rendah ini menyampaikan air secara lambat dan akurat pada akar- akar tanaman, tetes demi  tetes.

Manfaat dengan melakukan irigasi tetes ini, adalah : (1) menyediakan air selama musim kemarau; (2) membantu penyimpanan air dan menghemat persediaan air selama seminggu; (3) menyalurkan air ke tempat yang kami inginkan; dan yang terpenting (4) mengusahakan tanah tempat media tumbuh tanaman selalu basah terairi tetesan air dan cukup untuk mengairi tanaman buah atau tanaman lain di halaman belakang rumah kami yang ada di dalam pot.
Untuk metodologi merancangan sistem irigasi tetes meliputi perancangan layout jaringan perpipaan beserta pompa air dsb, perancangan kalender tanam dan pola tanam, perhitungan kebutuhan air irigasi pada tingkat tanaman (modulus irigasi).

Untuk mengetahui jarak optimal penempatan pompa air untuk tujuan irigasi sistem tetes pada ember yang berisi air yang satu dengan yang lainnya pada luasan lahan yang sama, digunakan pendekatan persamaan aliran air ke dalam ember dengan kondisi aliran air yang tetap pada aquifer phreatic dan semi-tertekan.

5.2 Saran

Jumlah air irigasi yang diberikan ditetapkan berdasarkan kebutuhan tanaman, kemampuan tanah memegang air, serta sarana irigasi yang tersedia.

Dibutuhkan naungan yang sesuai sehingga jika terjadi hujan maka air tidak meluapi polibag sehingga pemberian air  sesuai dengan jumlah tetes yang telah diberikan atau ditentukan karena telah tercampur oleh air hujan.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://id.wikipedia.org/wiki/sawi. Diakses 13 juni 2012. Pukul 14.30 WIB.

AAK.1992.Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran.Yogyakarta:Kanisius

Anonymous.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Budidaya Tanaman Sawi. diakses tanggal 13 juni 2012.

Anonymous.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Sawi_putih. diakses tanggal 1 Februari 2009.

Kloppenburg.1993.Petunjuk Lengkap mengenai Tanam-tanaman di Indonesia dan Khasiatnya sebagai Obat-obatan Tradisional. Yogyakarta:Yayasan Dana Sejahtera.

 

Categories: Pertanian | 3 Comments

Kerugian yang diakibatkan oleh Gulma dan Jenis-jenis nya

1. KERUGIAN AKIBAT GULMA

Produksi tanaman pertanian, baik yang diusahakan dalam bentuk pertanian rakyat ataupun perkebunan besar ditentukan oleh beberapa faktor antara lain hama, penyakit dan gulma. Kerugian akibat gulma terhadap tanaman budidaya bervariasi, tergantung dari jenis tanamannya, iklim, jenis gulmanya, dan tentu saja praktek pertanian di samping faktor lain. Di Amerika Serikat besarnya kerugian tanaman budidaya yang disebabkan oleh penyakit 35 %, hama 33 %, gulma 28 % dan nematoda 4 % dari kerugian total. Di negara yang sedang berkembang, kerugian karena gulma tidak saja tinggi, tetapi juga mempengaruhi persediaan pangan duniaTanaman perkebunan juga mudah terpengaruh oleh gulma, terutama sewaktu masih muda.Apabila pengendalian gulma diabaikan sama sekali, maka kemungkinan besar usaha tanaman perkebunan itu akan rugi total. Pengendalian gulma yang tidak cukup pada awal pertumbuhan tanaman perkebunan akan memperlambat pertumbuhan dan masa sebelum panen. Beberapa gulma lebih mampu berkompetisi daripada yang lain (misalnya Imperata cyndrica), yang dengan demikian menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Persaingan antara gulma dengan tanaman yang kita usahakan dalam mengambil unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas maupun kuantitas. Cramer (1975) menyebutkan kerugian berupa penurunan produksi dari beberapa tanaman dalah sebagai berikut : padi 10,8 %; sorgum 17,8 %; jagung 13 %; tebu 15,7 %; coklat 11,9 %; kedelai 13,5 % dan kacang tanah 11,8 %. Menurut percobaan-percobaan pemberantasan gulma pada padi terdapat penurunan oleh persaingan gulma tersebut antara 25-50 %.

Gulma mengkibatkan kerugian-kerugian yang antara lain disebabkan oleh :

1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup.

2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma.

3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.

4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.

5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandradan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.

6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi.

7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.

8. Gulma air mngurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air.

Dalam kurun waktu yang panjang kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Di negara-negara sedang berkembang (Indonesia, India, Filipina, Thailand) kerugian akibat gulma sama besarnya dengan kerugian akibat hama.

RANGKUMAN

Gulma menimbulkan kerugian-kerugian karena mengadakan persaingan dengan tanaman pokok, mengotori kualitas produksi pertanian, menimbulkan allelopathy, mengganggu kelancaran pekerjaan para petani, sebagai perantara atau sumber hama dan penyakit, mengganggu kesehatan manusia, menaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian dan menurunkan produktivitas air.

2. KOMPETISI

A. Kompetisi Gulma terhadap Tanaman

Adanya persaingan gulma dapat mengurangi kemampuan tanaman untuk berproduksi. Persaingan atau kompetisi antara gulma dan tanaman yang kita usahakan di dalam menyerap unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah, dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis, menimbulkan kerugian-kerugian dalam produksi baik kualitas dan kuantitas.

a. Persaingan memperebutkan hara

Setiap lahan berkapasitas tertentu didalam mendukung pertumbuhan berbagai pertanaman atau tumbuhan yang tumbuh di permukaannya. Jumlah bahan organik yang dapat dihasilkan oleh lahan itu tetap walaupun kompetisi tumbuhannya berbeda; oleh karena itu jika gulma tidak diberantas, maka sebagian hasil bahan organik dari lahan itu berupa gulma. Hal ini berarti walaupun pemupukan dapat menaikkan daya dukung lahan, tetapi tidak dapat mengurangi komposisi hasil tumbuhan atau dengan kata lain gangguan gulma tetap ada dan merugikan walaupun tanah dipupuk.

Yang paling diperebutkan antara pertanaman dan gulma adalah unsur nitrogen, dan karena nitrogen dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, maka ini lebih cepat habis terpakai. Gulma menyerap lebih banyak unsur hara daripada pertanaman. Pada bobot kering yang sama, gulma mengandung kadar nitrogen dua kali lebih banyak daripada jagung; fosfat 1,5 kali lebih banyak; kalium 3,5 kali lebih banyak; kalsium 7,5 kali lebih banyak dan magnesium lebih dari 3 kali. Dapat dikatakan bahwa gulma lebih banyak membutuhkan unsur hara daripada tanaman yang dikelola manusia.

b. Persaingan memperebutkan air

Sebagaimana dengan tumbuhan lainnya, gulma juga membutuhkan banyak air untuk hidupnya. Jika ketersediaan air dalam suatu lahan menjadi terbatas, maka persaingan air menjadi parah. Air diserap dari dalam tanah kemudiaan sebagian besar diuapkan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang dipakai untuk proses fotosintesis. Untuk tiap kilogram bahan organik, gulma membutuhkan 330 – 1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali lipat kebutuhan pertanaman. Contoh gulma Helianthus annus membutuhkan air sebesar 2,5 kali tanaman jagung. Persaingan memperebutkan air terjadi serius pada pertanian lahan kering atau tegalan.

c. Persaingan memperebutkan cahaya

Apabila ketersediaan air dan hara telah cukup dan pertumbuhan berbagai tumbuhan subur , maka faktor pembatas berikutnyaa adalah cahaya matahari yang redup (di musim penghujan) berbagai pertanaman berebut untuk memperoleh cahaya matahari. Tumbuhan yang berhasil bersaing mendapatkan cahaya adalah yang tumbuh lebih dahulu, oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan kurang tajuknya, dinaungi oleh tumbuhannya yang terdahulu serta pertumbuhannya akan terhambat.

Tumbuhan yang berjalur fotosintesis C4 lebih efisien menggunakan air, suhu dan sinar sehingga lebih kuat bersaing berebut cahaya pada keadaan cuaca mendung. Oleh karena itu penting untuk memberantas gulma dari familia Cyperaceae dan Gramineae (Poaceae) di sekitar rumpun-rumpun padi yang berjalur C3.

Dari peristiwa persaingan antara gulma dan tanaman pokok didalam memperebutkan unsur hara, air dan cahaya matahari, Eussen (1972) menelorkan rumus :

TCV = CVN + CVW + CVL

di mana TCV = total competition value, CVN = competition value for nutrient, CVW = competition value for water dan CVL = competition value for light. Nilai persaingan total yang disebabkan oleh gulma terhadap tanaman pokok merupakan penggabungan dari nilai persaingan untuk hara + nilai persaingan untuk air + nilai persaingan untuk cahaya.

Besar kecilnya (derajad) persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Besar kecilnya persaingan antara gulma dan tanaman pokok di dalam memperebutkan air, hara dan cahaya atau tinggi rendahnya hambatan terhadap pertumbuhan atau hasil tanaman pokok jika dilihat dari segi gulmanya, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut ini.

a.  Kerapatan gulma

Semakin rapat gulmanya, persaingan yang terjadi antara gulma dan tanaman pokok semakin hebat, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara kerapatan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi negatif. Suroto dkk. (1996) memperlihatkan bahwa perlakuan kerapatan awal teki 25, 50 dan 100 per m2menurunkan bobot biji kacang tanah per tanaman masing-masing sebesar 14,69 %; 14,88 % dan 17,57 %.

b.  Macam gulma

Masing-masing gulma mempunyai kemampuan bersaing yang berbeda, hambatan terhadap pertumbuhan tanaman pokok berbeda, penurunan hasil tanaman pokok juga berbeda. Sebagai contoh kemampuan bersaing jawan (Echinochloa crusgalli) dan tuton (Echinochloa colonum) terhadap tanaman padi tidak sama atau berbeda.

c. Saat kemunculan gulma

Semakin awal saat kemunculan gulma, persaingan yang terjadi semakin hebat, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara saat kemunculan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi positif. Hasil penelitian Erida dan Hasanuddin (1996) memperlihatkan bahwa saat kemunculan gulma bersamaan tanam, 15, 30, 45, 60 dan 75 hari setelah tanam masing-masing memberikan bobot biji kedelai sebesar 166,22; 195,82; 196,11; 262,28; 284,77 dan 284,82 g/petak (2m x 3m).

d. Lama keberadaan gulma

Semakin lama gulma tumbuh bersama dengan tanaman pokok, semakin hebat persaingannya, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun. Hubungan antara lama keberadaan gulma dan pertumbuhan atau hasil tanaman pokok merupakan suatu korelasi negatif. Perlakuan lama keberadaan gulma 0, 15, 30, 45, 60, 75, dan 90 hari setelah tanam masing-masing memberikan bobot biji kedelai sebesar 353,37; 314,34; 271,45; 257,34; 256,64; 250,56 dan 166,22 g/petak (Erida dan Hasanuddin, 1996).

e. Kecepatan tumbuh gulma

Semakin cepat gulma tumbuh, semakin hebat persaingannya, pertumbuhan tanaman pokok semakin terhambat, dan hasilnya semakin menurun.

f. Habitus gulma

Gulma yang lebih tinggi dan lebih lebat daunnya, serta lebih luas dan dalam sistem perakarannya memiliki kemampuan bersaing yang lebih, sehingga akan lebih menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman pokok

g. Jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4)

Gulma yang memiliki jalur fotosintesis C4 lebih efisien, sehingga persaingannya lebih hebat, pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun.

h. Allelopati

Beberapa species gulma menyaingi tanaman dengan mengeluarkan senyawa dan zat-zat beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Bagi gulma yang mengeluarkan allelopat mempunyai kemampuan bersaing yang lebih hebat sehingga pertumbuhan tanaman pokok lebih terhambat, dan hasilnya semakin menurun.

Di samping itu kemiripan gulma dengan tanaman juga mempunyai arti penting. Masing-masing pertanaman memiliki asosiasi gulma tertentu dan gulma yang lebih berbahaya adalah yang mirip dengan pertanamannnya. Sebagai contoh Echinochloa crusgalli lebih mampu bersaing terhadap padi jika dibandingkan dengan gulma lainnya.

2. Kompetisi Intraspesifik dan Interspesifik

Gulma dan pertanaman yang diusahakan manusia adalah sama-sama tumbuhan yang mempunyai kebutuhan yang serupa untuk pertumbuhan normalnya. Kedua tumbuhan ini sama-sama membutuhkan cahaya, air, hara gas CO2 dan gas lainnya, ruang, dan lain sebagainya. Apabila dua tumbuhan tumbuh berdekatan, maka akan perakaran kedua tumbuhan itu akan terjalin rapat satu sama lain dan tajuk kedua tumbuhan akan saling menaungi, dengan akibat tumbuhan yang memiliki sistem perakaran yang lebih luas, lebih dalam dan lebih besar volumenya serta lebih tinggi dan rimbun tajuknya akan lebih menguasai (mendominasi) tumbuhan lainnya. Dengan demikian perbedaan sifat dan habitus tumbuhanlah yang merupakan penyebab terjadinya persaingan antara individu-individu dalam spesies tumbuhan yang sama (intra spesific competitionatau kompetisi intra spesifik) dan persaingan antara individu-individu dalam spesies tumbuhan yang berbeda (inter spesific competition atau kompetisi inter spesifik). Persaingan gulma terhadap pertanaman disebabkan antara lain oleh karena gulma lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya, serta lebih luas dan dalam sistem perakarannya, sehingga pertanaman kalah bersaing dengan gulma tersebut.

3. Periode Kritis

Dalam pertumbuhan tanaman terdapat selang waktu tertentu dimana tanaman sangat peka terhadap persaingan gulma. Keberadaan atau munculnya gulma pada periode waktu tersebut dengan kepadatan tertentu yaitu tingkat ambang kritis akan menyebabkan penurunan hasil secara nyata. Periode waktu dimana tanaman peka terhadap persaingan dengan gulma dikenal sebagai periode kritis tanaman. Periode kritis adalah periode maksimum dimana setelah periode tersebut dilalui maka keberadaan gulma selanjutnya tidak terpengaruh terhadap hasil akhir. Dalam periode kritis, adanya gulma yang tumbuh di sekitar tanaman harus dikendalikan agar tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan hasil akhir tanaman tersebut.

Periode kritis adalah periode dimana tanaman pokok sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukan pengendalian, dan jika tidak dilakukan maka hasil tanaman pokok akan menurun. Pada umumnya persaingan gulma terhadap pertanaman terjadi dan terparah pada saat 25 – 33 % pertama pada siklus hidupnya atau ¼ – 1/3 pertama dari umur pertanaman. Persaingan gulma pada awal pertumbuhan tanaman akan mengurangi kuantitas hasil panenan, sedangkan gangguan persaingan gulma menjelang panen berpengaruh lebih besar terhadap kualitas hasil panenan. Waktu pemunculan (emergence) gulma terhadap pertanaman merupakan faktor penting di dalam persaingan. Gulma yang muncul atau berkecambah lebih dahulu atau bersamaan dengan tanaman yang dikelola, berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panenan. Sedangkan gulma yang berkecambah (2-4 minggu) setelah pemunculan pertanaman sedikit pengaruhnya.

Dengan diketahuinya periode kritis suatu tanaman, maka saat penyiangan yang tepat menjadi tertentu. Penyiangan atau pengendalian yang dilakukan pada saat periode kritis mempunyai beberapa keuntungan. Misalnya frekuensi pengendalian menjadi berkurang karena terbatas di antara periode kritis tersebut dan tidak harus dalam seluruh siklus hidupnya. Dengan demikian biaya, tenaga dan waktu dapat ditekan sekecil mungkin dan efektifitas kerja menjadi meningkat.

RANGKUMAN

Gulma dan pertanaman mengadakan persaingan memperebutkan hara, air dan cahaya, sehingga TCV = CVN + CVW + CVL. Besar kecilnya persaingan gulma terhadap tanaman pokok akan berpengaruh terhadap baik buruknya pertumbuhan tanaman pokok dan pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya hasil tanaman pokok. Tinggi rendahnya hasil tanaman pokok, jika dilihat dari segi gulmanya sangat ditentukan oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, kecepatan tumbuh gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, jalur fotosintesis gulma (C3atau C4), dan ada tidaknya allelopati.

Gulma dan pertanaman adalah sama-sama tumbuhan yang mempunyai kebutuhan serupa untuk pertumbuhan normalnya. Perbedaan sifat dan habitus tumbuhan merupakan penyebab terjadinya kompetisi intra spesifik dan kompetisi inter spesifik.

Dalam pertumbuhan tanaman terdapat selang waktu tertentu di mana tanaman sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukan pengendalian, dan jika tidak maka hasil tanaman akan menurun. Pada umumnya periode kritis terjadi pada saat 25 – 33 % pertama pada siklus hidupnya atau pada saat ¼ – 1/3 pertama dari umur pertanaman. Dengan diketahui periode kritis suatu tanaman maka saat penyiangan yang tepat menjadi tertentu. Penyiangan gulma dilakukan pada saat periode kritis.

3. ALLELOPATI

Tumbuh-tumbuhan juga dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi, yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan tumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi biokimiawi antara gulma dan pertanamanan antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel-sel akar dan lain sebagainya.

Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa beracun dari akarnya (root exudates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut alelopati dan zat kimianya disebut alelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari golongan fenol.

Tidak semua gulma mengeluarkan senyawa beracun. Spesies gulma yang diketahui mengeluarkan senyawa racun adalah alang-alang (Imperata cylinarica), grinting (Cynodon dactylon), teki (Cyperus rotundus), Agropyron intermedium, Salvia lenocophyela dan lain-lain.

Eussen (1972) menyatakan, bahwa apabila gulma mengeluarkan senyawa beracun maka nilai persaingan totalnya dirumuskan sebagai berikut :

TCV = CVN + CVW + CVL + AV

Dimana TCV = total competition value, CVN = competition value of nutrient, CVW = competition value of water, CVL = competition value of light, dan AV = allelopathic value. Nilai persaingan total yang disebabkan oleh gulma yang mengeluarkan alelopat terhadap tanaman pokok merupakan penggabungan dari nilai persaingan untuk hara + nilai persaingan untuk air + nilai persaingan untuk cahaya + nilai alelopatik.

Secara umum alelopati selalu dikaitkan dengan maslah gangguan yang ditimbulkan gulma yang tumbuh bersama-sama dengan tanaman pangan, dengan keracunan yang ditimbulkan akibat penggunaan mulsa pada beberapa jenis pertanaman, dengan beberapa jenis rotasi tanaman, dan pada regenarasi hutan.

Kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh gulma antara lain dipengaruhi kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, kecepatan tumbuh gulma, dan jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4).

1.  Sumber Senyawa Alelopati

Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar, rizoma, umbi, bunga, buah, dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui :

a. Penguapan

Senyawa alelopati ada yang dilepaskan melalui penguapan. Beberapa genus tumbuhan yang melepaskan senyawa alelopati melalui penguapan adalah ArtemisiaEucalyptus,dan Salvia. Senyawa kimianya termasuk ke dalam golongan terpenoid. Senyawa ini dapat diserap oleh tumbuhan di sekitarnya dalam bentuk uap, bentuk embun, dan dapat pula masuk ke dalam tanah yang akan diserap akar.

b. Eksudat akar

Banyak terdapat senyawa kimia yang dapat dilepaskan oleh akar tumbuhan (eksudat akar), yang kebanyakan berasal dari asam-asam benzoat, sinamat, dan fenolat.

c. Pencucian

tanah oleh air hujan atau tetesan embun. Hasil cucian daun tumbuhan Crysanthemum sangat beracun, sehingga tidak ada jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di bawah naungan tumbuhan ini.

d. Pembusukan organ tumbuhan

Setelah tumbuhan atau bagian-bagian organnya mati, senyawa-senyawa kimia yang mudah larut dapat tercuci dengan cepat. Sel-sel pada bagian-bagian organ yang mati akan kehilangan permeabilitas membrannya dan dengan mudah senyawa-senyawa kimia yang ada didalamnya dilepaskan. Beberapa jenis mulsa dapat meracuni tanaman budidaya atau jenis-jenis tanaman yang ditanam pada musim berikutnya.

Tumbuhan yang masih hidup dapat mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Demikian juga tumbuhan yang sudah matipun dapat melepaskan senyawa alelopati lewat organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah. Alang-alang (Imperata cyndrica) dan teki (Cyperus rotundus) yang masih hidup mengeluarkan senyawa alelopati lewat organ di bawah tanah, jika sudah mati baik organ yang berada di atas tanah maupun yang di bawah tanah sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati.

2. Gulma Yang Berpotensi Alelopati

Alelopati dapat meningkatkan agresivitas gulma di dalam hubungan interaksi antara gulma dan tanaman melalui eksudat yang dikeluarkannya, yang tercuci, yang teruapkan, atau melalui hasil pembusukan bagian-bagian organnya yang telah mati.

Beberapa jenis gulma yang telah diketahui mempunyai potensi mengeluarkan senyawa alelopati dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Jenis gulma yang mempunyai aktivitas alelopati

Jenis gulma Jenis tanaman pertanian yang peka
Abutilon theoprasti beberapa jenis
Agropyron repens berbagai jenis
Agrostemma githago gandum
Allium vineale oat
Amaranthus spinosus kopi
Ambrosia artemisifolia berbagai jenis
A. trifida kacang pea, gandum
Artemisia vulgaris mentimun
Asclepias syriaca sorgum
Avena fatua berbagai jenis
Celosia argentea bajra
Chenopodium album mentimun, oat, jagung
Cynodon dactylon kopi
Cyperus esculentus jagung
C. rotundus sorgum, kedelai
Euporbia esula kacang pea, gandum
Holcus mollis barli
Imperata cylindrica berbagai jenis
Poa spp. tomat
Polygonum persicaria kentang
Rumex crisparus jagung, sorgum
Setaria faberii jagung
Stellaria media barli

(Sumber : Putnam, 1995)

Telah banyak bukti yang dikumpulkan menunjukkan bahwa beberapa jenis gulma menahun yang sangat agresif termasuk Agropyron repens, Cirsium arvense, Sorgum halepense, Cyperus rotundus dan Imperata cylindrica mempunyai pengaruh alelopati, khususnya melalui senyawa beracun yang dikeluarkan dari bagian-bagian yang organnya telah mati.

3. Pengaruh Alelopati

Beberapa pengaruh alelopati terhadap aktivitas tumbuhan antara lain :

-Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara yaitu dengan menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuhan.

-Beberapa alelopat menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan.

-Beberapa alelopat dapat menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel tumbuhan.

-Beberapa senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat respirasi akar.

-Senyawa alelopati memberikan pengaruh menghambat sintesis protein.

-Beberapa senyawa alelopati dapat menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.

-Senyawa alelopati dapat menghambat aktivitas enzim.

4.  Pengaruh Alelopati terhadap Pertumbuhan

Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa senyawa alelopati dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Laporan yang paling awal diketahui mengenai hal ini ialah bahwa pada tanah-tanah bekas ditumbuhi Agropyron repens, pertumbuhan gandum, oat, alfalfa, dan barli sangat terhambat.

Alang-alang menghambat pertumbuhan tanaman jagung dan ini telah dibuktikan dengan menggunakan percobaan pot-pot bertingkat di rumah kaca di Bogor. Mengingat unsur hara, air dan cahaya bukan merupakan pembatas utama, maka diduga bahwa alang-alang merupakan senyawa beracun yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jagung. Tumbuhan yang telah mati dan sisa-sisa tumbuhan yang dibenamkan ke dalam tanah juga dapat menghambat pertumbuhan jagung. Lamid dkk. (1994) memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstraks organ tubuh alang-alang, semakin besar pengaruh negatifnya terhadap pertumbuhan kecambah padi gogo.

Penelitian semacam ini juga telah banyak dilakukan misalnya pada teki (Cyperus rotundus). Pengaruh teki terhadap pertumbuhan jagung, kedelai dan kacang tanah juga telah dipelajari dengan metode tidak langsung. Ekstrak umbi dari teki dalam berbagai konsentrasi telah digunakan dalam percobaan. Sutarto (1990) memperlihatkan bahwa tekanan ekstrak teki segar 200 dan 300 g/250 ml air menyebabkan pertumbuhan tanaman kacang tanah menjadi kerdil dan kurus, serta potensi hasilnya menurun.

RANGKUMAN

 gulma mengeluarkan senyawa beracun. Apabila gulmanya mengeluarkan senyawa beracun maka rumusan nilai persaingan totalnya adalah TCV = CVN + CVW + CVL + AV. Di mana TCV = total competition value, CVN = competition value of nutrient, CVW = competition value of water, CVL = competition value of light, dan AV = allelopathic value.

Kuantitas dan kualitas senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh gulma dipengaruhi oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma, lama keberadaan gulma, habitus gulma, kecepatan tumbuh gulma dan jalur fotosintesis gulma (C3 atau C4).

Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan termasuk daun, batang, akar rizoma, umbi, bunga, buah dan biji. Senyawa-senyawa alelopati dapat dilepaskan dari jaringan-jaringan tumbuhan dalam berbagai cara termasuk melalui penguapan, eksudat akar, pencucian dan pembusukan organ tumbuhan. Beberapa gulma yang berpotensi alelopati baik yang masih hidup atau yang sudah mati sama-sama dapat melepaskan senyawa alelopati melalui organ yang berada dia atas tanah maupun yang di bawah tanah.

Beberapa jenis gulma yang berpotensi mengeluarkan senyawa alelopati ialah Abutilon theoprasti, Agropyron repens, Agrostemma githago, Allium vineale, Amaranthus spinosus, Ambrosia artemisifolia, A. trifidia, Artemisia vulgaris, Asclepias syriaca, Avena fatua, Celosia argentea, Chenopodium album, Cynodon dactylon, Cyperus esculentus, C. rotundus, Euphorbia esula, Holcus mollis, Imperata cylindrica, Poa spp. ,Polygonum persicaria, Rumex crispus, Setaria faberii, Stellaria media.

Senyawa alelopati dapat menghambat penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar, pertumbuhan tanaman, fotosintesis, respirasi, sitesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran sel dan menghambat aktivitas enzim.

Alelopati menghambat pertumbuhan tanaman. Agropyron repensmenghambat pertumbuhan gandum, oat, alfalfa dan barli. Alang-alang dan teki baik yang masih hidup maupun yang sudah mati menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil tanaman budidaya.

4. KLASIFIKASI GULMA

Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demkian inilah yang merupakan kelemahan utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.

Cara klasifiksi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula. Masing-masing kelompok memperlihatkan perbedaan di dalam pengendalian. Gulma dapat dikelompokan seperti berikut ini :

1Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokan menjadi :

aGulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya. Di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Fimbristylis littoralisdan lain sebagainya.

b. Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk gulma dua tahun yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium altissimumdan Artemisia biennis.

cGulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan banyak diantaranya yang berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.

Berdasarkan cara berkembang biaknya, gulma tahunan dibedakan menjadi dua :

1). Simple perennial, yaitu gulma yang sebenarnya hanya berkembang biak dengan biji, akan tetapi apabila bagian tubuhnya terpotong maka potongannya akan dapat tumbuh menjadi individu baru. Sebagai contoh Taraxacum sp. dan Rumex sp., apabila akarnya terpotong menjadi dua, maka masing-masing potongannya akan tumbuh menjadi individu baru.

2). Creeping perennial, yaitu gulma yang dapat berkembang biak dengan akar yang menjalar (root creeping), batang yang menjalar di atas tanah (stolon) atau batang yang menjalar di dalam tanah (rhizioma). Yang termasuk dalam golongan ini contohnya Cynodon dactylon, Sorgum helepense, Agropyron repens, Circium vulgare. Beberapa diantaranya ada yang berkembang biak dengan umbi (tuber), contohnya Cyperus rotundus dan Helianthus tuberosus. Contoh gulma tahunan populair yang perkembangbiakan utamanya dengan rhizoma adalah alang-alang (Imperata cylindrica). Dengan dimilikinya alat perkembangbiakan vegetatif, maka gulma tersebut sukar sekali untuk diberantas. Adanya pengolahan tanah untuk penanaman tanaman pangan atau tanaman setahun lainnya akan membantu perkembangbiakan, karena dengan terpotong-potongnya rhizoma, stolon atau tubernya maka pertumbuhan baru akan segera dimulai dan dapat tumbuh berkembangbiak dengan pesat dalam waktu yang tidak terlalu lama apabila air tercukupi. Adanya pengendalian dengan frekuensi yang tinggi (sering atau berulang-ulang) baik secara mekanis ataupun secara kimiawi, maka lambat laun pertumbuhannya akan tertekan juga. Satu cara pengendalian yang efektif, yang juga diperlukan adalah dengan membunuh kecambah-kecambah yang baru muncul atau tumbuh di atas permukaan tanah.

2. Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi :

a. Gulma darat (terrestial weeds), yaitu gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat. ContohCyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. , dan lain sebagainya.

b. Gulma air (aquatic weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air. Gulma air dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

1). Gulma air garam (saltwater atau marine weeds), yaitu gulma yang hidup pada kondisi air seperti air laut, misal di hutan-hutan bakau. Sebagai contoh Enchalus acoroides dan Acrosticum aureum.

2). Gulma air tawar (fresh water weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air tawar. Dikelompokkan lagi ke dalam:

a). Gulma yang tumbuh mengapung (floating weeds), contohnyaEichornia crassipes, Salvinia cuculata, Pistia stratiotes.

b). Gulma yang hidup tenggelam (submerged weeds), dibedakan ke dalam :

Gulma yang hidup melayang (submerged not anchored weeds), contoh Ultricularia gibba.

Gulma yang akarnya masuk ke dalam tanah (submerged anchored weeds), contoh Hydrilla verticillata, Ottelia alismoides, Najas indica, Ceratophyllum demersum.

c). Gulma yang sebagian tubuhnya tenggelam dan sebagian mengapung (emerged weeds), contoh Nymphae spp. , Nymphoides indica.

d). Gulma yang tumbuh di tepian (marginal weeds), contoh Panicum repens, Scleria poaeformis, Rhychospora corymbosa, Polygonum sp.,Ludwigia sp., Leersia hexandra, Cyperus elatus.

3. Berdasarkan tempat tumbuhnya, gulma dikelompokkan menjadi :

a. Terdapat di tanah sawah, contohnya Echinochola crusgalli, Echinochola colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Marsilea crenata.

b. Terdapat di tanah kering atautegalan, contohnya Cyperus rotundus, Amaranthus spinosus, Eleusine indica.

cTerdapat di tanah perkebunan besar, contohnya Imperata cylindrica, Salvinia sp., Pistia stratiotes.

4. Berdasarkan sistematikanya, gulma dikelompokan ke dalam :

a. Monocotyledoneae, gulma berakar serabut, susunan tulang daun sejajar atau melengkung, jumlah bagian-bagian bunga tiga atau kelipatannya, dan biji berkeping satu. Contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus, Cyperus dactylon, Echinochloa crusgalli, Panicum repens.

B Dicotyledoneae, gulma berakar tunggang, susunan tulang daun menyirip atau menjari, jumlah bagian-bagian bunga 4 atau 5 atau kelipatannya, dan biji berkeping dua. Contohnya Amaranthus spinosus, Mimosasp., Euphatorium odoratum.

c. Pteridophyta, berkembang biak secara generatif dengan spora. Sebagai contoh Salvinia sp., Marsilea crenata.

5. Berdasarkan morfologinya, gulma dikelompokan ke dalam :

a. Golongan rumput (grasses)

Gulma golongan rumput termasuk dalam familia Gramineae/Poaceae.

Batang bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga.

Daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar, terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis (linier), tepi daun rata. Lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun.

Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis). Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea.

Buah disebut caryopsis atau grain.

Contohnya Imperata cyliindrica, Echinochloa crusgalli, Cynodon dactylon, Panicum repens.

b. Golongan teki (sedges)

Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae.

Batang umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga.

Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula).

Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung.

Buahnya tidak membuka.

Contohnya Cyperus rotundus, Fimbristylis littoralis, Scripus juncoides.

c. Golongan berdaun lebar (broad leaves)

Gulma berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledoneae dan Pteridophyta.

Daun lebar dengan tulang daun berbentuk jala.

Contohnya Monocharia vaginalis, Limnocharis flava, Eichornia crassipes, Amaranthus spinosus, Portulaca olerace, Lindernia sp.

6. Berdasarkan asalnya, gulma dikelompokan ke dalam :

a. Gulma obligat (obligate weeds)adalah gulma yang tidak pernah dijumpai hidup secara liar dan hanya dapat tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh manusia. Contoh Convolvulus arvensis, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava.

b. Gulma fakultatif (facultative weeds) adalah gulma yang tumbuh secara liar dan dapat pula tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh manusia. Contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus Opuntia sp.

7Berdasarkan parasit atau tidaknya, dibedakan dalam :

a. Gulma non parasit, contohnyaImperata cylindrica, Cyperus rotundus.

b. Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :

1. Gulma parasit sejati, contohCuscuta australis(tali putri).

Gulma ini tidak mempunyai daun, tidak mempunyai klorofil, tidak dapat melakukan asimilasi sendiri, kebutuhan akan makannya diambil langsung dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya (haustarium) memasuki sampai ke jaringan floem.

2. Gulma semi parasit, contohnyaLoranthus pentandrus.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi kebutuhan akan air dan unsur hara lainnya diambil dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.

3) Gulma hiper parasit, contoh Viscum sp.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi kebutuhan akan air dan hara lainnya diambil dari gulma semi parasit, dan akar pengisapnya masuk sampai ke jaringan silem.

RANGKUMAN

Klasifikasi gulma dapat didasarkan pada siklus hidup, habitat, tempat tumbuh, sistematika, morfologi, asal atau parasit tidaknya.

Berdasarkan siklus hidup gulma dibedakan menjadi gulma setahun, gulma dua tahun dan gulma tahunan. Berdasarkan habitatnya dibedakan menjadi gulma darat dan gulma air. Berdasarkan tempat tumbuhnya dibedakan menjadi gulma yang terdapat di tanah sawah, gulma yang terdapat di tanah kering/tegalan, gulma yang terdapat di tanah perkebunan besar dan gulma yang terdapat di rawa-rawa atau waduk. Berdasarkan sistematikanya dibedakan menjadi gulma Monocotyledoneae, gulma Dicotyledoneae dan gulma Pteridophyta. Berdasarkan morfologinya dibedakan menjadi gulma golongan rumput, gulma golongan teki dan gulma golongan berdaun lebar. Berdasarkan asalnya dibedakan menjadi gulma obligat dan gulma fakultatif. Sedang berdasarkan parasit atau tidaknya dibedakan menjadi gulma non parasit dan gulma parasit.

5. CARA-CARA PENGENDALIAN GULMA

Pengendalian dapat berbentuk pencegahan dan pemberantasan. Mencegah biasanya lebih murah tetapi tidak selalu lebih mudah. Di negara-negara yang sedang membangun kegiatan pengendalian yang banyak dilakukan orang adalah pemberantasan. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara-cara :

Preventif (pencegahan)

Cara ini teruatama ditujukan terhadap species-species gulma yang sangat merugikan dan belum terdapat tumbuh di lingkungan kita. Species gulma asing yang cocok tumbuh di tempat-tempat baru dapat menjadi pengganggu yang dahsyat (eksplosif). Misalnya kaktus di Australia, eceng gondok di Asia-Afrika. Cara-cara pencegahan masuk dan menyebarkan gulma baru antara lain adalah :

a. Dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma

b. Pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang

c. Pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumput makanan ternak

d. Pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan

ePembersihan ternak yang akan diangkut

f. Pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan lain sebagainya.

Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan dengan baik, maka harus dicegah pula agar jangan sampai gulma berbuah dan berbunga. Di samping itu juga mencegah gulma tahunan (perennial weeds) jangan sampai berbiak terutama dengan cara vegetatif.

2. Pengendalian gulma secara fisik

Pengendalian gulma secara fisik ini dapat dilakukan dengan jalan :

a. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah dengan menggunakan alat-alat seperti cangkul, garu, bajak, traktor dan sebagainya pada umumnya juga berfungsi untuk memberantas gulma. Efektifitas alat-alat pengolah tanah di dalam memberantas gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup dari gulma atau kropnya, dalam dan penyebaran akar, umur dan ukuran infestasi, macamnya krop yang ditanaman, jenis dan topografi tanah dan iklim.

b. Pembabatan (pemangkasan, mowing)

Pembabatan umumnya hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan relatif kurang efektif untuk gulma tahunan. Efektivitas cara ini tergantung pada waktu pemangkasan, interval (ulangan) dan sebagainya. Pembabatan biasanya dilakukan di perkebunan yang mempunyai krop berupa pohon, pada halaman-halaman, tepi jalan umum, jalan kereeta pai, padang rumput dan sebagainya. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada waktu gulma menjelang berbunga atau pada waktu daunnya sedang tumbuh dengan hebat.

c. Penggenangan

Penggenangan efektif untuk memberantas gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15 – 25 cm selama 3 – 8 minggu. Gulma yang digenangi harus cukup terendam, karena bila sebagian daunnya muncul di atas air maka gulma tersebut umumnya masih dapat hidup.

d. Pembakaran

Suhu kritis yang menyebabkan kematian pada kebanyakan sel adalah 45 – 550 C, tetapi biji-biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhannya yang hidup. Kematian dari sel-sel yang hidup pada suhu di atas disebabkan oleh koagulasi pada protoplasmanya.

Pembakaran secara terbatas masih sering dilakukan untuk membersihkan tempat-tempat dari sisa-sisa tumbuhan setelah dipangkas. Pada sistem peladangan di luar Jawa cara ini masih digunakan oleh penduduk setempat. Pembakaran umumnya banyak dilakukan pada tanah-tanah yang non pertanian, seperti di pinggir-pinggir jalan, pinggir kali, hutan dan tanah-tanah industri.

Keuntungan pembakaran untuk pemberantasan gulma dibanding dengan pemberantasan secara kimiawi adalah pada pembakaran tidak terdapat efek residu pada tanah dan tanaman. Keuntungan lain dari pembakaran ialah insekta-insekta dan hama-hama lain serta penyakit seperti cendawan-cendawan ikut dimatikan. Kejelekannya ialah bahaya kebakaran bagi sekelilingnya, mengurangi kandungan humus atau mikroorganisme tanah, dapat memperbesar erosi, biji-biji gulma tertentu tidak mati, asapnya dapat menimbulkan alergi dan sebagainya.

e. Mulsa (mulching, penutup seresah)

Penggunaan mulsa dimaksudkan untuk mencegah agar cahaya matahari tidak sampai ke gulma, sehingga gulma tidak dapat melakukan fotosintesis, akhirnya akan mati dan pertumbuhan yang baru (perkecambahan) dapat dicegah. Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mulsa antara lain jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas dan plastik.

1.  Pengendalian gulma dengan sistem budidaya

Cara pengendalian ini jiga disebut pengendalian secara ekologis, oleh karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman tetapi merugikan bagi gulmanya. Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu :

a. Pergiliran Tanaman

Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan. Coontoh : padi – tebu – kedelai, padi – tembakau – padi. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula, karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe, tomat, dan sebagainya). Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. Dengan pergiliran tanaman, kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah, sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya.

b. Budidaya pertanaman

Penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan gulma.

Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma.

Waktu tanaman lambat, dengan membiarkan gulma tumbuh lebih dulu lalu diberantas dengan pengolahan tanah atau herbisida. Baru kemudian tanaman ditanam pada tanah yang sebagian besar gulmanya telah mati terberantas.

c. Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops)

Mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma, sambil membantu pertanaman pokoknya dengan pupuk nitrogen yang kadang-kadang dapat dihasilkan sendiri.

2.  Pengendalian gulma secara biologis

Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain, seperti insekta, fungi, ternak, ikan dan sebagainya. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian. Juga harus yakin apabila species gulma yang akan dikendalikan itu habis, insekta atau fungi tersebut tidak menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis.

Sebagai contoh pengendalian biologis dengan insekta yang berhasil ialah pengendalian kaktus Opuntia spp. Di Australia dengan menggunakan Cactoblastis cactorum, dan pengendalian Salvinia sp. dengan menggunakan Cyrtobagous singularis. Demikian juga eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok, Myrothesium roridum untuk kiambang , dan Cerosporasp. untuk kayu apu. Di samping pengendalian biologis yang tidak begitu spesifik terhadap species-species tertentu seperti penggunaan ternak dalam pengembalaan, kalkun pada perkebunan kapas, ikan yang memakan gulma air dan sebagainya.

3. Pengendalian gulma secara kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma, baik secara selektif maupun non selektif. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik, dan penggunaannya bisa pada saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman, mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila cara-cara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup dan untuk itu akan diuraikan tersendiri lebih lanjut.

4.  Pengendalian gulma secara terpadu

Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya, fisik, biologis dan kimiawi serta preventif, tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan masing-masing, tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif, misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida, jarak tanam dengan penyiangan, pemupukan dengan herbisida dan sebagainya, di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain.

RANGKUMAN

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pembersihan ternak yang akan diangkut, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.

Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa.

Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops).

Secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain seperti insekta, fungi, ternak, ikan dan sebagainya.

Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh.

Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.

Categories: Pertanian | Leave a comment

Makalah bunga mawar

KATA PENGANTAR

 

            Puji syukur pertama kali kami sampaikan kehadiran Tuhan YME dimana atas izinnyalah kami dapet menyelesaikan makalah kami yang membahas tentang  BUDIDAYA TANAMAN HIAS “MAWAR”

Kami menyadari sepenuhnya didalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Namun makalah dapat memberikan kita tambahan ilmu dan pengetahuan tentang Teknologi Tanaman Transgenik yang bermanfaat untuk peningkatan produksi tanaman.

DAFTAR ISI

            Pendahuluan……………………………………………………. i

            Pembahasan …………………………………………………………. ii

            Teknik Budidaya …………….…………………………………. iii

            Pemanfaatan …………………..………………………………... iv

            Daftar Pustaka ………………………………………………....  v

 

PENDAHULUAN

 

            Kebutuhan akan tanaman hias untuk era sekarang bukan menjadi hal yang aneh buat dibicarakan. Kebutuhan akan tanaman hias sangat banyak mempengaruhi baik dalam hal gaya hidup, hiasan rumah maupun penggunaannya untuk ekspresi dalam mengatakan perasaan.

Dalam kebudayaan Barat, mawar adalah bunga lambang cinta dan kecantikan. Bunga mawar dianggap suci untuk beberapa dewa dalam mitologi Yunani seperti Isis dan Aprodite. Bunga mawar adalah bunga nasional Inggris dan digunakan sebagai lambang tim nasional rugby Inggris dan Rugby Football Union di Inggris. Di Kanada, bunga mawar liar merupakan bunga provinsi Alberta. Di Amerika Serikat, bunga mawar merupakan bunga negara bagian Iowa, North Dakota, Georgia, dan New York. Kota Portland di negara bagian Oregon yang setiap tahunnya mengadakan festival bunga mawar sering disebut “Kota Bunga mawar.” Bunga mawar merupakan simbol anti-kekerasan di Georgia sewaktu terjadi Revolusi Mawar di tahun 2003. Selain itu, bunga mawar sering dijadikan objek lukisan oleh banyak pelukis. Pelukis Perancis bernama Pierre-Joseph Redouté terkenal dengan lukisan berbagai spesies bunga mawar yang digambar dengan sangat teliti.

PEMBAHASAN

 

?Rose

Rosa canina

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Rosales
Famili: Rosaceae
Upafamili: Rosoideae
Genus: Rosa L.

Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter.

Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun.

Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak Buah mawar (rose hips) dari Rosa canina.

Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam.

Pada beberapa spesies seperti Rosa canina dan Rosa rugosa menghasilkan buah rose hips yang sangat kaya dengan vitamin C bahkan termasuk di antara sumber vitamin C alami yang paling kaya. Buah rose hips disukai burung pemakan buah yang membantu penyebaran biji mawar bersama kotoran yang dikeluarkan. Beberapa jenis burung seperti burung Finch juga memakan biji-biji mawar.

Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa spesies yang tumbuh liar di tanah berpasir di daerah pantai seperti Rosa rugosa dan Rosa pimpinellifolia beradaptasi dengan duri lurus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat dimakan binatang, menahan pasir yang diterbangkan angin dan melindungi akar dari erosi. Walaupun sudah dilindungi duri, rusa kelihatannya tidak takut dan sering merusak tanaman mawar. Beberapa spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam.

Mawar dapat dijangkiti beberapa penyakit seperti karat daun yang merupakan penyakit paling serius. Penyebabnya adalah cendawan Phragmidium mucronatum yang menyebabkan kerontokan daun. Penyakit yang tidak begitu berbahaya seperti Tepung Mildew disebabkan cendawan Sphaerotheca pannosa, sedangkan penyakit Bercak Hitam yang ditandai timbulnya bercak-bercak hitam pada daun disebabkan oleh cendawan Diplocarpon rosae. Mawar juga merupakan makanan bagi larva beberapa spesies Lepidoptera.

Mawar tumbuh subur di daerah beriklim sedang walaupun beberapa kultivar yang merupakan hasil metode penyambungan (grafting) dapat tumbuh di daerah beriklim subtropis hingga daerah beriklim tropis.Selain sebagai bunga potong, mawar memiliki banyak manfaat, antara lain antidepresan, antiviral, antibakteri, antiperadangan, dan sumber vitamin C. Minyak mawar adalah salah satu minyak atsiri hasil penyulingan dan penguapan daun-daun mahkota sehingga dapat dibuat menjadi parfum. Mawar juga dapat dimanfaatkan untuk teh, jelly, dan selai. Mawar Taman secara umum digolongkan menjadi 3 kelompok besar: Rosa alba ‘Maiden’s Blush’, Mawar ‘Zépherine Drouhin’, Mawar ‘Zépherine Drouhin’

 

TEKNIK BUDIDAYA

 

            Tanaman mawar biasanya dipropagasi secara konvensional. Pemuliaan tanaman mawar secara konvensional menghasilkan ribuan hibrida dan kultivar yang sebagian besar merupakan bunga ganda dengan daun mahkota berlapis hasil mutasi benang sari menjadi daun mahkota tambahan. Mawar hibrida atau kultivar sebagian besar dibuat untuk dinikmati bunganya di taman-taman. Para pemulia mawar abad ke-20 berlomba-lomba dengan ukuran dan warna untuk menghasilkan bunga-bunga besar dan menarik serta berbau harum (atau tanpa bau), padahal mawar liar atau mawar zaman dulu justru sangat berbau harum. Kultivar tertentu seperti Rosa banksiae malah tidak memiliki duri sama sekali. Permintaan bunga mawar potong menduduki peringkat pertama, namun pengembangan bunga potong di Indonesia tergolong lambat karena adanya kendala dalam propagasi secara konvensional seperti ketergantungan terhadap musim, masalah kesehatan dan penyakit pada tanaman serta kecepatan multiplikasi yang rendah.

Hal inilah yang mendorong teknik kultur in vitro menjadi alternatif karena tidak memiliki ketergantungan terhadap musim karena dilakukan di ruang tertutup, daya multiplikasi tinggi, dan dapat menghasilkan tanaman yang bebas bakteri dan cendawan. Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan salah satu bagian tanaman mawar yang digunakan sebagai eksplan (jaringan, organ, embrio, sel tunggal, protoplas, dan sebagainya) dan ditanam pada media bernutrisi secara aseptis. Media tersebut mengandung berbagai konsentrasi hormon untuk mendukung pertumbuhan eksplan yang diinginkan.Adapun yang menjadi dasar kultur jaringan ini adalah teori totipotensi.

PEMANFAATAN

 

Industri parfum

Parfum (minyak wangi) dibuat dari minyak mawar yang merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang diperoleh dari proses penyulingan dan penguapan lumatan daun-daun mahkota. Teknik penyulingan mawar berasal dari Persia yang menyebar ke Arab dan India.

Pada saat ini, kebutuhan minyak mawar dunia sebanyak 70%-80% dipenuhi oleh pusat penyulingan mawar di Bulgaria sedangkan sisanya dipenuhi oleh Iran dan Jerman. Penyulingan minyak mawar di Bulgaria, Iran, dan Jerman menggunakan mawar damaskus Rosa damascena ‘Trigintipetala,’ sedangkan penyulingan di Perancis menggunakan jenis Rosa centifolia. Minyak mawar berwarna kuning pucat atau kuning keabu-abuan juga disebut minyak ‘Rose Absolute’ untuk membedakannya dengan minyak mawar yang sudah diencerkan. Penyulingan menghasilkan minyak mawar dengan perbandingan 1/3.000 sampai 1/6.000 dari berat bunga, sehingga dibutuhkan 2.000 bunga mawar untuk menghasilkan minyak mawar sebanyak 1 gram.

Minyak mawar terdiri dari geraniol beraroma wangi yang mempunyai rumus kimia C10H18O dengan rumus bangun CH3.C[CH3]:CH.CH2.CH2.C[CH3]:CH.CH2OH dan l-sitronelol; serta rose camphor (parafin tanpa bau).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vries, DPD, LAM Dubois. 2004. Early selection in hybird Tea-rose seedlings for cut stem length. Euphyt 26(3): 761-767
  2. Ercisli, S. 2005. Rose(Rosa spp.) Germplasm Resources of Turkey. Genet Resour and crop Evolut 52(2):787-795
  3. Senapati SK, Rout GR. 2008. Study of culture conditions for improved micropropagation of hybrid rose. Hort. Sci. (Prague) 35 : 27-34.
  4. Novita L. 2008. Induksi perakaran pada tanaman mawar (Rosa hybrida) secara in vitro. [terhubung berkala]. http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html?idm=38597[30 Nov 2009].
  5. Pati, PK, SP Rath, M Sharma,A Sood, PS Ahuja. 2006. in vitro propagation of rose: a review. Biotechnol. Adv. 24: 94-114.
  6. Razavizadeh R, Ehsanpour AA. 2008. Optimization of in vitro propagation of Rosa hybrida L. Cultivar black red. American-Eurasian J. Agric. & Environ. Sci. 3 (1) : 96-99
Categories: Pertanian | Leave a comment

Budidaya Lidah Buaya

BUDIDAYA LIDAH BUAYA

Latar Belakang

Lidah buaya (Aloe vera (L.) Webb.) merupakan tanaman yang telah lama dikenal di Indonesia karena kegunaannya sebagai tanaman obat untuk aneka penyakit. Belakangan tanaman ini menjadi semakin popular karena manfaatnya yang semakin luas diketahui yakni sebagai sumber penghasil bahan baku untuk aneka produk dari industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Pada saat ini, berbagai produk lidah buaya dapat kita jumpai di kedai, toko, apotek, restoran, pasar swalayan, dan internet yang kesemuanya mengisyaratkan terbukanya peluang ekonomi dari komoditi tersebut bagi perbaikan ekonomi nasional yang terperek dewasa ini.

.

Tanaman lidah buaya meskipun bukan merupakan tanaman asli Indonesia ternyata dapat tumbuh baik di negara kita, bahkan di Propinsi Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak, tanaman ini beradaptasi jauh lebih baik daripada di tempat-tempat lainnya. Hal ini diakui oleh pakar lidah buaya mancanegara yang karenanya juga turut menyayangkan bilamana keunggulan komparatif yang dimiliki oleh tanaman ini tidak dimanfaatkan oleh Indonesia. Kepentingan pasar global, setidaknya regional, terhadap lidah buaya Indonesia perlu ditindaklanjuti dengan berbagai program yang mendukung pengembangan komoditi ini dari mulai pembudidayaannya di lahan petani, pengolahan hasilnya menjadi berbagai produk agroindustri, dan pemasaran produk-produk tersebut baik secara domestik maupun global. Tulisan ini akan menyajikan informasi berdasarkan hasil studi lapang yang mencakup aspek-aspek teknik produksi, pemasaran, keuangan, dan ekonomi-sosial yang terkait dengan pengembangan lidah buaya tersebut.

b. Pesan yang disampaikan

Pesan yang ingin disampaikan dalam leaflet ini adalah bagaimana cara membudidayakan secara khusus tanaman lidah buaya pada lahan gambut. Pembudidayaan tersebut meliputi proses-proses yang harus dilakukan oleh pembudidaya mulai dari awal yaitu dari penyiapan lahan hingga proses terakhir yaitu proses produksi sehingga didapat suatu hasil yang memuaskan. Disini juga dibahas tentang bagaimana cara mengatasi masalah yang timbul akibat kesalahan dalam proses budidaya.

c. Sasaran yang dituju

Sasaran yang dituju adalah para petani di seluruh Indonesia yang tertarik untuk mengembangkan tanaman lidah buaya pada umumnya dan para petani pada lahan gambut yang sering kesulitan dalam usahanya meggarap lahan pada khususnya. Selain itu leaflet ini juga ditujukan kepada siapa saja yang ingin menambah pengetahuannya tentang  pertanian khususnya budidaya tanaman lidah buaya.

d. Efek yang diharapkan

Efek yang diharapkan dari dibuatnya leaflet ini adalah bertambahnya pengetahuan para petani dalam usahanya mengembangkan usahanya di bidang budidaya tanaman lidah buaya pada lahan gambut . Petani dapat menerapkan seluruh proses-proses yang harus dilakukan oleh pembudidaya mulai dari awal yaitu dari penyiapan lahan hingga proses terakhir yaitu proses produksi sehingga didapat suatu hasil yang memuaskan serta petani dapat mengatasi masalah yang timbul akibat kesalahan dalam proses budidaya.

Usaha budidaya yang tadinya sudah baik diharapkan menjadi lebih baik lagi dan petani tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi dalam proses pembudidayaan karena telah mendapat suatu referensi yang lebih akurat dari sebelumnya. Selain semakin bertambahnya pengetahuan bagi petani leaflet ini juga diharapkan mampu menambah pengetahuan kepada siapa saja yang membacanya dan mungkin dengan semakin bertambahnya ilmu tentang budidaya tanaman lidah buaya membuatnya semakin tertarik untuk mengembangkan budidaya tanaman lidah buaya ini menjadi lebih baik lagi.

2. Efektifitas

a. Kemampuan daya menerangkan

Kemampuan leaflet dalam menerangkan dapat dikatakan baik karena dalam upaya menyampaikan pesan leaflet telah menerankan dengan detail seluruh proses yang harus dilakukan. Tak hanya proses yang diterangkan secara detail namun juga ukuran baik berat maupun panjang,waktu mulai hari sampai bulan, serta ciri-ciri yang dibutuhkan oleh para petani sehingga tidak membuat suatu hal yang membingungkan yang dapat berakibat kesalahan dalam pelaksaaan budidaya. Selain itu kata-kata/istilah yang digunakan dalam leaflet ini merupakan kata-kata/istilah yang mudah dipahami oleh para petani sehingga petani tidak perlu bingung apa yang dimaksudkan oleh kata/istilah dalam leaflet.

Kelebihan leaflet ini adalah dapat diaplikasikan kepada siapa saja yang ingin membudidayakan tanaman lidah buaya pada lahan gambut karena semua yang dibutuhkan telah dijelaskan dalam leaflet ini. Selain itu dengan adanya leaflet ini para petani di daerah lahan gambut yang tidak bisa menggarap lahannya karena kurangnya pengetahuan tentang lahn gambut dapat memulai usaha baru yang lebih menjanjikan dari pada usaha yang dahulu.

Sedangkan kekurangan leaflet ini adalah kurang begitu efektif apabila disebarkan didaerah yang tidak berlahan gambut karena informasi yang terkandung dalam leaflet ini hanya akan efektif bila diterapkan di daerah lahan gambut. Sedangkan sebagian besar wilayah Indonesia tidak berlahan gambut, hanya sedikit daerah yang berlahan gambut.

b. Pembahasan masalah

Dalam pembahasan maasalah akan dijelaskan mengenai mengapa memilih budidaya tanaman lidah buaya untuk dijadikan sebuah leaflet. Pemilihan budidaya tanaman lidah buaya sebagai topik dalam leaflet adalah karena belum banyak masyarakat yang tahu mengenai masalah budidaya tanaman ini, kalaupun tahu mereka hanya sebatas pengetahuan ringan belaka. Untuk itu dengan dibuatnya leaflet ini diharapakan   para petani dapat meningkatkan produksi pertaniannya.

B. Budidaya Tanaman Lidah Buaya

Lidah buaya tumbuh Iiar di tempat berudara panas tapi sering juga ditanam di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya meruncing berbentuk taji. Tebalnya kira-kira 1 cm. Dalamnya bening. Daun ini getas dan tepinya bergerigi. Panjangnya bisa sampai 30 cm. Yang biasa digunakan adalah daun dan akarnya.

Sebagaimana diketahui bahwa gambut merupakan salah satu jenis tanah yang bermasalah dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman, karena sifatnya dari mulai ekstrim masam sampai masam, maka dalam pemanfaatannya untuk dijadikan lahan pertanian terlebih dalulu lahan gambut ini harus dikondisikan sehingga sesuai dengan syarat tumbuh tanaman lidah buaya.

Diagram Alur Budidaya Tanaman Lidah Buaya

Tanaman lidah buaya tidak menghendaki lahan yang basah atau terdapat genangan air yang cukup lama, sedangkan pada lahan gambut umumnya mengandung air relatif banyak karena kemampuannya dalam mengikatkan air. Teknik budidaya tanaman lidah buaya pada lahan gambut dapat dijelaskan, sebagai berikut:

1. Penyiapan Lahan

Lahan gambut yang telah ditetapkan sebagai lokasi untuk budidaya tanaman lidah buaya, terlebih dahulu harus dibuat parit keliling yang berfungsi untuk membuang air tanah yang berlebihan (drainase).

Saat awal pembibitan merupakan tahap dimana kebutuhan air harus diperhatikan. Bibit mungkin akan berwarna kemerah-merahan karena belum beradaptasi dengan lingkungan. Dengan pengairan yang cukup, seminggu setelah pembibitan, bibit akan menunjukkan pertumbuhan normal/pulih dari stres lingkungan akibat pemisahan dari induk. Pengairan yang berlebihan harus dicegah karena bibit mudah busuk akibat serangan cendawan pada keadaan lembab. Parit/saluran air dibuat disekeliling lahan dan pada arah memotong tengah areal lahan dengan ukuran parit: lebar atas 50 cm, lebar bawah : 35 cm dan kedalaman berkisar 50-60 cm (tergantung tebal lapisan gambut dan kondisi genangan air tanahnya).

Ukuran Parit Keliling dan Parit Tengah Memotong Lahan

2. Pembersihan Lahan

Pembersihan lahan yang dimaksud adalah membersihkan lahan dari semua vegetasi yang ada dengan cara menebas dan menebang pohon semak belukar sampai semua vegetasi/tumbuhan terpotong. Selanjutnya tebasan dibiarkan hingga kering, untuk batang kayu yang bisa diangkut dan dikumpulkan menjadi satu ditempat pembakaran, untuk semak belukar yang kering dikumpulkan dan dibakar ditempat, setelah lahan bersih pekerjaan berikutnya adalah pembuatan bedengan/guludan.

3. Pembuatan Bedengan/Guludan

Pembuatan bedengan/guludan sekaligus merupakan pengolahan tanah atau pecangkulan, bedengan/guludan dibuat dengan ukuran disesuaikan dengan jarak tanam yang akan digunakan, antara lain :

a. Jarak tanam             : 1,25 m x 1,00 m  (Populasi : 8. 000 Pohon/Ha)
b. Jarak tanam             : 1,25 m  x 1,25 m (Populasi : 6. 000 Pohon/Ha)

Bedengan untuk jarak tanam (a) dan (b) dibuat dengan ukuran lebar 75 cm dan tinggi 20-30 cm, dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan atau tergantung selera/keinginan, tapi ada juga yang membuat bedengan dengan panjang 25 meter.

Ukuran Bedengan

(Jarak antar tanaman = 1,00 m atau 1,25 m)

Apabila bedengan untuk tanaman lidah buaya dibuat belakangan maka lahan yang sudah bersih langsung diberi tanda untuk pembuatan lubang tanam (ajir), dengan demikian bedengan tanaman akan terbentuk setelah bibit tanaman lidah buaya sudah ditanam sekaligus merupakan pembumbunan tanaman.

4. Penyiapan Sarana Produksi

Sarana produksi yang harus dipersiapkan adalah bibit, pupuk (organik dan anorganik), abu, kulit udang atau busukan ikan (bila mudah diperoleh) dan fungisida. Pada penyiapan bibit tanaman lidah buaya harus dipersiapkan dengan baik sejak pengolahan lahan dimulai yaitu bibit tanaman lidah buaya, sudah berumur 3 atau 4 bulan dan telah didederkan selama minimal 1 bulan, bibit dapat diambil dari anakan langsung yang telah mencapai ukuran sebesar ibu jari dengan tinggi 10 cm – 15 cm, selanjutnya dipisahkan dari induk tanaman dan ditanam pada tempat pendederan yang telah disiapkan (jarak tanam pendederan 15 cm x 20 cm atau 15 cm x 15 cm), selama pendederan bibit tanaman diberikan perlakuan pemupukan (pupuk kandang, abu dan pupuk urea).

5. Persiapan Tanaman

Lahan yang sudah dibuat bedengan selanjutnya diberikan ajir sebagai tanda jarak tanam dan tempat penanaman bibit. Minimal 1 minggu (7 hari) sebelum tanam, pada ajir/tanda tanam tadi dibuat lubang tanam dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm. Setelah lubang tanam dipersiapkan, selanjutnya masukkan/tempatkan campuran pupuk urea, TSP, KCL, abu, pupuk kandang dan kulit udang ke dalam lubang tanam dan tutup lagi dengan tanah dan letakkan lagi ajir tepat ditengah lubang, sebagai tanda untuk menanamkan  bibit lidah buaya.

6. Bibit Lidah Buaya

Bibit yang akan ditanam, harus diseleksi bersamaan dengan saat pencabutan bibit dari tempat pendederan. Bibit lidah buaya umumnya berukuran tinggi 20 – 30 cm dengan minimal 6 (enam) daun pelepah. Anakan yang telah cukup besar, berusia sekitar 1-2 bulan, dipisahkan dari tanaman induk (ditangkarkan). Anakan akan muncul dari tanaman induk pada usia 5-6 bulan. Penjarangan anakan ini sangat penting dilakukan agar tanaman lidah buaya dapat tumbuh besar.

Pembiakan dapat dilakukan melalui anakan (umum dilakukan), benih, maupun setek batang. Pembibitan dari anakan dapat dilakukan di bedengan atau di polibag. Pembibitan di bedengan dapat dilakukan dengan membuat bedengan berukuran 1-1.5 m x 10 m atau menurut kebutuhan dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm. Bedengan harus benar-benar remah agar pertumbuhan akar bibit tidak terganggu. Bibit yang terganggu perkembangan akarnya akibat tanah yang keras tidak akan tumbuh berkembang. Sebelum ditanami bibit, bedengan ditaburi pupuk kandang sebanyak 20 – 40 kg (1-2 karung) per bedeng dan diaduk secara merata. Penaburan kapur pertanian dianjurkan untuk mengurangi serangan cendawan. Penambahan urea sebanyak 7,5 kg per bedeng bisa dilakukan untuk merangsang pertumbuhan bibit. Sedangkan pembibitan di polibag, bisa dilakukan dengan media tanah dicampur pupuk kandang 1 : 1 atau 1 : 2 dan ditambahkan NPK 5 gram per polibag tiap dua minggu. Setelah itu polibag ditaruh di tempat yang cukup teduh namun masih terkena sinar matahari.

7. Penanaman

Bibit yang sudah diseleksi (terpilih) harus benar-benar sehat, tidak terdapat luka pada daun pelepah. Pencabutan bibit dapat dilakukan bersamaan dengan saat hari tanam (tidak dimalamkan atau terlalu lama terkena sinar matahari langsung/berjemur). Daun-daun bagian bawah yang telah berwarna kekuningan dan daun yang terserang penyakit perlu dibuang. Daun dijaga agar tidak sampai tertimbun tanah yang akan menyebabkan busuk akibat serangan cendawan. Pengairan perlu dilakukan ketika lahan terlihat kering (lama tidak turun hujan). Pengairan yang telat akan menyebabkan tanaman layu dan daun berubah warna kuning kemerahan yang memerlukan waktu agar pulih kembali. Setelah 3-4 hari dari pemberian pupuk, bibit tanaman dicabut dan dipindah tanamkan di lapangan yakni pada lubang yang sudah diberikan campuran pupuk. Penanaman bibit dengan cara dibenamkan sedalam 4 cm – 6 cm dan tanah disekitar bibit dipadatkan agar bibit tidak mudah tumbang. Penanaman hendaknya dilakukan pada pagi hari (jam 07.00 – 10.00) atau sore (jam 16.00).

Setelah 10 – 14 hari setelah tanam, dilakukan pengamatan terhadap bibit, apabila terdapat bibit yang mati segera dilakukan penyulaman. Penyulaman di lahan dilakukan setelah tanaman berumur 1-2 MST (minggu setelah tanam), yakni dengan cara mengganti tanaman yang mati atau kurang baik pertumbuhannya dengan tanaman baru. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung jarak tanam yang digunakan dan umumnya berjumlah 8.000 tanaman/hektar (jarak tanam 1,00 x 1,25 m).

8. Pengendalian Penyakit Tanaman

Penyakit pada tanaman lidah buaya umumnya sedikit dan tidak serius, namun bila terdapat luka pada daun pelepah kemungkinan akan terserang penyakit busuk yang disebabkan oleh fungi (cendawan) atau bila pada penggunaan pupuk kandang dari kotoran ayam sering terlihat serangan penyakit busuk pangkal akar yang disebabkan oleh Erwinia chrysanthemi. Pada tanaman lidah buaya yang kekurangan unsur kalium sangat mudah terserang penyakit spot daun (ujung pelepah menjadi kering atau terdapat bercak-bercak hitam) yang disebabkan oleh fusarium solani atau alternaria alternata.

Hama yang menyerang lidah buaya relatif sedikit. Terkadang ulat atau belalang menyerang daun lidah buaya. Pada keadaan lembab sering juga ditemui hama yang menyerang akar dan batang lidah buaya, terutama saat pembibitan. Sedangkan penyakit yang menyerang terutama busuk basah akibat cendawan/bakteri pada daun. Penyemprotan pestisida hanya dilakukan bila serangan hama dan penyakit cukup mengganggu.

Pada tanaman lidah buaya yang dirawat secara intensif (pupuk berimbang) jarang sekali bahkan tidak pernah terlihat gejala serangan penyakit. Namun pada tanaman lidah buaya yang penyediaan unsur haranya tidak seimbang terutama apabila kelebihan unsur nitrogen (N) akan terlihat pada daun pelepah yang sekulen berlebihan mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh fungi, karena serat yang terdapat dalam daun pelepah tidak kuat. Tanaman lidah buaya yang terserang penyakit cendawan baik di akar atau di daun pelepahnya segera harus dimusnahkan dan tanaman yang belum terserang di semprot dengan fungisida.

9. Pemupukan Tanaman

Tanaman lidah buaya sangat diharapkan pertumbuhan vegetatifnya yang subur karena daun pelepahnya yang akan di panen. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman lidah buaya yang baik harus dilakukan penambahan unsur hara melalui pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan dosis berdasarkan umur tanaman dan diberikan dengan kontinyu pada waktu yang telah ditentukan. Secara rinci pelaksanaan pemupukan tanaman lidah buaya sebagai berikut :

a). Pupuk Dasar : diberikan 3-4 hari sebelum tanam terdiri dari :

Pupuk  Kandang          =       200     gram/pohon
Pupuk  Urea                =         20     gram/pohon
Pupuk  TSP                  =         10     gram/pohon
Pupuk  KCL                 =         10     gram/pohon

Abu      Tanaman          =         25     gram/pohon
Kulit     Udang             =         25     gram/pohon

Ketujuh jenis sarana produksi (pupuk) ini dicampur merata dan masukan ke dalam lubang tanaman untuk selanjutnya ditutup lagi dengan tanah yang diambil dari sekitar lubang.

b). Pupuk Susulan tahun 1 : pupuk ini mulai diberikan pada umur tanaman 1,5-2 bulan setelah tanam, terdiri dari :

Pupuk  Urea                            =         20      gram/tanaman
Pupuk  TSP                 =         10      gram/tanaman
Pupuk  KCL                =         10      gram/tanaman
(selanjutnya diberikan setiap 2 bulan sekali)

Sedangkan untuk pupuk kandang, abu dan kulit udang diberikan setiap 24 minggu sekali (6 bulan sekali) dengan dosis :

Pupuk  Kandang         =       250      gram     -      300      gram/tanaman
Abu      Tanaman          =         30      gram     -        50      gram/tanaman
Kulit     Udang             =         25      gram     -        40      gram/tanaman

Pada pemberian pupuk susulan tahun II, dosis pupuk anorganik ditingkatkan lagi, begitu juga dengan tahun III dan Ke IV dan seterusnya pemupukan dilakukan dengan cara dibenamkan ditengah-tengah antara tanaman dalam bedengan.

10. Penyiangan (Pengendalian Gulma)

Penyiangan dilakukan pada saat sebelum dilakukan pemupukan susulan, namun demikian penyiangan dapat saja dilakukan secepatnya bila gulma disekitar tanaman lidah buaya sudah terlihat banyak yang tumbuh. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma dengan tangan atau kored, bersamaan dengan penyiangan dilakukan pembersihan alur antar bedengan dan menaikkan tanah-tanah yang turun dari bedengan karena curah hujan.. Penyiangan pada tanaman lidah buaya sangat penting dilakukan karena peertumbuhan gulma yang cenderung pesat dan menganggu tanaman. Disamping pekerjaan yang bersamaan dengan penyiangan, bagi tanaman yang sudah berumur 1 tahun keatas akan terlihat anakan lidah buaya yang harus dibuang atau dipisahkan untuk didederkan dan ditanam kembali atau untuk di jual.

11. Panen dan Pasca Panen

Panen daun pelepah lidah buaya umumnya baru dapat dilakukan memasuki umur tanaman 10-12 bulan atau melihat perkembangan dan pertumbuhan tanaman, apabila sudah sesuai ukuran permintaan pasar dapat dilakukan pemanenan. Lidah buaya yang tumbuh dengan subur ukuran pelepah pertama (bagian bawah) berkisar   40-70 cm dengan tebal daging pelepah antara 2 – 3 cm dan berat mencapai  0,60 kg sampai 1,40 kg.

Pada hamparan tanaman yang sama panen dapat dilakukan sebulan sekali sebanyak 1-2 daun pelepah. Namun petani biasanya melakukan panen pada hamparan yang sama tidak sekaligus (1 kali) mengingat tingkat pertumbuhan tanaman yang berbeda, sehingga panen dapat dilakukan beberapa kali dalam hamparan yang sama tetapi lain tanaman. Panen dilakukan untuk daun pelepah pertama (terbawah) dengan cara menyobek bagian bawah daun pelepah yang menempel pada batang tanaman dan penyobekan dapat dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam serta tidak melukai daging pelepah maupun batang tanaman. Setelah daun pelepah dipanen selanjutnya dibersihkan atau dicuci dalam rendaman air untuk menghilangkan kotoran atau tanah yang menempel.

Daun pelepah yang sudah bersih selanjutnya disusun rapi pada rak sampai tidak terlihat lagi bintik-bintik air bekas pencucian pada daun pelepah, setelah kering daun pelepah lidah buaya siap untuk di packing/dikemas dan dikirim untuk memenuhi permintaan pasar. Untuk memenuhi permintaan pasar terhadap daun pelepah lidah buaya segar dari luar Kota Pontianak baik itu untuk dikirim ke Jakarta atau ekspor, umumnya lidah buaya yang sudah bersih dan memebuhi standart permintaan sebelum dikemas terlebih dahulu satu persatu pelepah lidah buaya dibungkus dengan kertas koran dan dikemas dalam peti kayu. Satu buah peti kayu berisi 40 – 50 daun pelepah lidah buaya segar.

12. Peremajaan Tanaman

Peremajaan pada tanaman lidah buaya dilakukan dengan cara memotong batang untuk memperpendek jarak antara pelepah dengan pangkal akar (bukan penggantian tanaman). Untuk menghindari stagnasi pertumbuhan, sebelumnya batang tanaman lidah buaya yang akan dipotong, dibumbun dahulu beberapa hari sampai tumbuh akar pada batang yang akan dipotong.

13. Produksi

Produksi lidah buaya berupa daun pelepah, pada satu pohon tanaman lidah buaya dapat dipanen 1 sampai 2 pelepah setiap bulannya. Untuk tanaman yang berumur 10-12 bulan berat pelepah mencapai 0,6 kg, apabila populasi tanaman mencapai 8.000 (jarak tanaman 1,00 m x 1,25 m) dan yang dapat dipanen diperkirakan mencapai 80 % dari populasi tanaman/ha, masing-masing tanaman

Dipanen sebanyak satu pelepah,maka :
Produksi/ha/bulan         =          80 % x 8.000 x 0,6 kg           =    3.840 kg.
Produksi/ha/tahun         =          12 x 3.840 kg                        =  46.080 kg

c. Kemampuan menjangkau sasaran

Kemampuan daya menerangkan leaflet sudah cukup baik karena kalimat yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang merupakan bahasa yang sudah umum dikalangan petani. Istilah-istilah yang dipergunakanpun tidak begitu banyak. Istilah yang dipergunakan merupakan istilah umum bidang pertanian dan dibelakang istilah tersebut telah dibubuhkan artinya dalah bahasa yang mudah dipahami oleh petani. Dengan demikian leaflet ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya petani. Lidah buaya tumbuh Iiar di tempat berudara panas tapi sering juga ditanam di pot dan pekarangan rumah sebagai tanaman hias. Daunnya meruncing berbentuk taji. Tebalnya kira-kira 1 cm. Dalamnya bening. Daun ini getas dan tepinya bergerigi. Panjangnya bisa sampai 30 cm. Yang biasa digunakan adalah daun dan akarnya.

Sebagaimana diketahui bahwa gambut merupakan salah satu jenis tanah yang bermasalah dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman, karena sifatnya dari mulai ekstrim masam sampai masam, maka dalam pemanfaatannya untuk dijadikan lahan pertanian terlebih dalulu lahan gambut ini harus dikondisikan sehingga sesuai dengan syarat tumbuh tanaman lidah buaya. Tanaman lidah buaya tidak menghendaki lahan yang basah atau terdapat genangan air yang cukup lama, sedangkan pada lahan gambut umumnya mengandung air relatif banyak karena kemampuannya dalam mengikatkan air.

Categories: Pertanian | Leave a comment

Pengenalan Mikroorganisme dan Klasifikasinya

Kata Pengantar

 

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Pengenalan Mikroorganisme serta Klasifikasinya”.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah diharapkan.

Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

    Pekanbaru, 14 Mei 2009

 

 

Syahroni

 

 

 

 

Pengenalan Mikroorganisme serta Klasifikasinya

Pendahuluan

Klasifikasi dan identifikasi adalah dua hal yang berbeda tetapi saling berhubungan dalam taksonomi. Klasifikasi dapat diidentifikasikan sebagai penyusunan organisme kedalam grup taksonomi(taksa) dengan berdasarkan persamaan atau hubungan. Klasifikasi organisme prokariota seperti bakteri memerlukan pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan juga teknik observasi, sifat biokimia, fisiologi, genetik dan morfologi yang sering penting untuk menggambarkan sebuah takson.

Mikroorganisme merupakan suatu kelompok organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata telanjang, sehingga diperlukan alat bantu untuk dapat melihatnya seperti mikroskop, lup dan lain-lain. Cakupan dunia mikroorganisme sangat luas, terdiri dari berbagai kelompok dan jenis, sehingga diperlukan suatu cara pengelompokan atau pengklasifikasian.

Klasifikasi adalah suatu istilah yang berkaitan dan sering kali digunakan atau dipertukarkan dengan taksonomi. Taksonomi adalah ilmu mengenai klasifikasi atau penataan sistematis organisme kedalam kelompok atau kategori yang disebut taksa (tunggal, takson) tetapi penyusunan taksonomi mikroorganisme mensyaratkan diidentifikasi sebagai mana mestinya dan diberi nama. Kegiatan secara keseluruhan, yakni tentang pengklasifikasian penamaan dan pengidentifikasian mikroorganisme, disebut sebagai sistematika mikroba.

Menyusun sistematik dalam dunia mikroorganisme bukanlah pekerjaan yang mudah kesulitan pertama yang kita hadapi ialah menentukan apakah mikroba itu golongan hewan atau golongan tumbuhan.

Setelah leeuwenhoek menyelami dunia mikroorganisme , sarjana Zoologi seperti Muller (1773) dan erlenberg (1838) menggolongkan bakteri pada protozoa. Baru pada tahun (1873), Cohn sarjana botani bangsa Jerman, mengetahui adanya ciri-ciri yang menyebabkan ia lebih condong menggolongkan bakteri (salah satu mikroorganisme) pada tumbuhan. Klasifikasi bakteri secara agak lengkap pada tahun 1875, dan sejak itu diadakan penyempurnaan secara berangsur-angsur sampai sekarang.

Banyak kesulitan dalam mengklasifikasikan mikroorganisme. Misalnya dalam klasifikasi bakteri. Kriteria dalam kalasifikasi berbeda dengan mengklasifikasikan tumbuhan tingkat tinggi dan hewan tingkat tinggi yang didasarkan terutama pada sifat-sifat marfologisnya. Tetapi hal ini sulit dilaksanakan pada bakteri, sehingga klasifikasi bakteri di dasarkan sebagian pada sifat-sifat morfologi, dan sifat-sifat fisiologinya termasuk imunologi.

Banyak bakteri di bawah mikroskop menunjukkan bentuk morfologi yang sama, tetapi sifat-sifat fisiologi mereka berlainan sama sekali.

Ada beberapa golongan bakteri yang sama bentuknya, tetapi yang satu dapat mencernakan asam amino tertentu, sedangkan yang lainnya tidak. Ada pula suatu golongan yang dapat menyebabkan suatu penyakit, sedang golongan yang lain tidak. Maka jelaslah bahwa kesukaran kita untuk menetapkan spesies berdasarkan sifat-sifat morfologi saja.

 

Rumusan Masalah

Adakah peranan penting mikroba bagi kehidupan.

Tujuan

Ø     Mengetahui klasifikasi dan identifikasi suatu mikroorganisme

Ø     Mengetahui manfaat mikroorganisme bagi kehidupan.

 

 

 

 

Pembahasan

Klasifikasi dan Identifikasi

Dalam semua cabang biologi diperluan pencirian, klasifikasi dan identifikasi. Klasifikasi merupakan proses untuk mengenali dan mengelompokkan organisme hidup. Klasifikasi merupakan bagian dari bidang ilmu sistematik. Tujuan klasifikasi ialah mengatur kedudukan dari berbagai organisme di alam. Jika diketahui ciri-ciri suatu mikroorganisme, maka dapat dilakukan perbandingan sehingga terlihat persamaan dan juga perbedaan dnegan organisme lainnya. Hal ini dapat disamakan dengan membuat tabel periodik bagi unsur kimia sehingga terlihat keterkaitan antara unsur kimia tersebut.

Klasifikasi dan identifikasi mikroorganisme haruslah diketahui terlebih dahulu karakteristik atau ciri-ciri mikroorganisme. Oleh karena ukurannya yang sangat kecil, tidaklah mungkin bagi kita untuk mempelajari 1 mikroorganisme saja, sehingga yang dipelajari adalah karakkteristik suatu biakan yang merupakan populasi dari suatu mikroorganisme.

Ciri-ciri utama dari suatu mikroorganisme dikelompokan sebagai berukut : .

1.      Morfologi

Mikroba pada umumnya sangat kecil : ukurannya dinyatakan dalam mikrometer (μm) .

1μ m = 0,001 mm.

Oleh karena ukurannya yang kecil diperlukan mikroskop untuk melihat mikroba. Mikroskop yang digunakan tergantung pada kecermatan yang diinginkan oleh peneliti.

2.      Sifat Kimiawi

Sel terdiri dari berbagai bahan kimia. Bila sel mikroba diberi perlauan kimiawi, maka sel ini memperlihatkan susunan kimiawi yang spesifik. Sebagai contoh, bakteri Gram negatif memiliki lipopolisakarida dalam dinding selnya, Sedangkan bakteri Gram positif tidak. Sebaliknya pada banyak bakteri Gram positif terdapat asam teikoat. Bahan kimia ini tidak ditemukan pada gram negatif. Dinding sel fungsi dan algae berbeda dari bakteri. Pada kelompok virus, pembagian dilakukan berdasaran asam inti yang dikandung, apakah merupakan DNA atau RNA

3.      Sifat Biakan

Zat hara yang diperlukan oleh setiap mikroorganisme berbeda ada mikroorganisme yang hanya dapat hidup dan tumbuh bila diberikan zat hara yang kompleks (serum, darah). Sebaliknya ada pula yang hanya memerlukan bahan inorganik saja atau bahan organik (asam amino, karbohidrat, purin, pirimidin, vitamin, koenzim) selain itu beberapa mikroorganisme hanya dapat tumbuh pada sel hidup, berupa inang, telur, bertunas, biakan jaringan.

4.      Sifat Metabolisme

Proses kehidupan dalam sel merupakan suatu rentetan reaksi kimiawi yang disebut metabolisme. Berbagai macam reaksi yang terjadi dalam metabolisme dapat digunakan untuk mencirikan mikroorganisme

5.      Sifat Antigenik

Bila mikroorganisme masuk kedalam tubuh, akan terbentu antibodi yang mengikat antigen. Antigen merupakan bahan kimia tertentu dari sel mikroba. Antibodi ini bersifat sangat spesifik terhadap antigen yang menginduksinya. Oleh karena mikroorganisme memiliki antigen yang berbeda, maka antibodi dapat digunakan untuk mencirikan (rapid indentification) terhadap mikroorganisme. Reaksi ini sangat sepesifik sehingga dapat disebut sebagai lock and key system.

6.      Sifat Genetik

DNA kromosomal mikroorganisme memiliki bagian yang konstan dan spesifik bagi mikroorganisme tersebut sehingga dapat digunakan untuk pencirian mikroorganisme.

Susunan basa DNA

Untuk perbandingan di gunakan mol % G+C

7.      Patogenitas

Mikroba dapat menimbulkan penyakit, kemampuannya untuk menimbulkan penyakit merupakan ciri khas mikroorganisme tersebut selain itu terdapat pula bakteri yang memakan bakteri lainnya (Bdellovibrio) dan virus (bakteriofag)yang menginfesi dan menghancurkan bakteri.

8.      Sifat Ekologi

Habitat merupakan sifat yang mencirikan mikroorganisme. Mikroorganisme yang hidup di lautan berbeda dengan air tawar. Mikroorganisme yang terdapat dalam rongga mulut berbeda dengan saluran pencernaan.

Perkembangan Klasifikasi

Pada klasifikasi “Five-kingdom System. Pembagian didasarkan pada cara pengambilan zat hara yaitu :

a.       Forosintesis

b.      Absorpsi

c.       Ingesti

Prokariot termasuk dalam Monera, cara mengambilan zat hara tidak melalui ingesti. Yukariot uniseluler termasuk protista, ketiga macam pengambilan zat hara terlihat dalam kelompok ini. Mucroalgar bersifat forosintetik, Protozoa dengan ingesti dan protista lainnya dengan absorpsi. Selain itu ada pula yang melakukan kombinasi. Mikroorganisme masuk dalam :

a.       Monera (bacteria dan cyanobacteria)

b.      Protista (microalgae dan protozoa)

c.       Fungsi (yeasts dan mold)

Tabel. Perkembangan Klasifikasi

Two-Kingdom system

Lennaeus

Four-Kingdom System

Capeland

Five-Kingdom system

Whitaker

Animalia

Plantae

Monera

Protoctista

Metaphyta

Metazoa

Monera

Protista

Plantac

Fungsi

Animalia

 

Koefisien Kesamaan

Kesamaan ini dapat dinyatakan dalam derajat kesamaan atau perbedaan. Derajat perbedaan sangat berguna oleh karena menunjukkan beberapa banyak organisme yang diteliti berbeda dengan organisme lain. Dengan mengetahui koefisien kesamaan dapat disusun Cluster dari organisme yang serupa

Beberapa metode utuk menentukan derajat kesamaan

a.       Cluster analysis

b.      Phenogram / dendrogram

c.       Ordination methods

Menggunakan Principal component analysis

d.      Similarity Matrix

 

 

Keterkaitan Sifat Genetik

Metode klasifikasi yang paling cermat adalah keterkaitan sifat genetika anta organisme. Metode ini paling obyektif dan didasarkan pada DNA. Pada tahun 1960, cabang ilmu yang disebut biologi molekuler menggunakan teknik untuk melihat kesamaan DNA antar organisme. Pada mulanya kesamaan yang dibadingkan hanyalah % mol G + C saja. Organisme yang berkaitan erat memiliki % G +C yang sama, sebaliknya organisme yang jauh berbeda memiliki nilai % G + C yang berbeda pula. Namun demikian, organisme yang tidak berkaitan mungkin saja memiliki % G + C yang sama. Oleh karena itu dicari metode perbandingan yang lebih cermat dengan cara membandingkan urutan dari nukleotida. Urutan nukleotida inilah yang merupakan ciri dasar suatu organisme.

Metode yang sering digunakan untuk melihat keterkaitan genetik adalah :

  1. Homologi DNA

DNA dipanaskan sehingga terurai menjari untaian tunggal. Untaian tunggal ini kemudian dicampur dengan organisme lainnya dan didinginkan kembali. Bila dua organisme ini berkaitan erat maka akan terbentuk Heterodupleks. Ini berarti untaian dari satu organisme akan berpasangan dengan untaian dari organisme lainnya. Bila tidak ada keterkaitan tidak akan terlihat heterodupleks. Metode ini paling berguna dalam tingkat klasifikasi species.

  1. Homologi RNA ribosom dan ribosomal RNA oligonukleotida

Dua organisme dapat saja tidak erat kaitannya, tetapi masih memperlihatkan homologi DNA. rRNA yang disandi oleh sebagian DNA yang disebut sebagai RNA sistron. Pada bakteri ternyata rRNA cistron ini “highlyy conserved” lestari. Ini berarti bahwa selama evolusi cistron ini memperlihatkan perubahan yang lebih sedikit di badingkan dengan bagian DNA yang lain

 

 

 

Taksonomi Mikroba

a. Dasar Pengelompokan

Taksonomi merupakan cara atau upaya pengelompokan jasad hidup di dalam kelompok atau takson yang sesuai. Pertama kali pengelompokan ini hanya untuk lingkungan tumbuh-tumbuhan dan hewan, tetapi ternyata bahwa untuk mikroba pun dapat digunakan.

Mikroba sesuai dengan bentuk dan sifatnya termasuk kedalam Dunia tumbuh-tumbuhan. Sehingga kalau sebelumnya dunia tersebut hanya terbagi kedalam dua kelompok besar yaitu :

1.      Monocotyledoneae, yaitu tumbuh-tumbuhan yang mempunyai keping biji tunggal.

2.      Dicotyledoneae, yaitu tumbuh-tumbuhan yang mempunyai keping biji dua, maka sekarang akan bertambah dengan 1 kelompok besar lainnya.

3.      Acotyledoneae, atau tumbuh-tumbuhan tanpa keping biji, yaitu Cryptogamae (kriptos = tersembunyi/tidak ada atau tidak nampa, gamae = alat perkembangbiak).

Mikroba termasuk kedalam kelompok ke-3 tersebut sesuai dengan sifat alat untuk perkembangbiakannya.

Dari segi mikrobiologi sendiri, dunia Mikroba terbagi menjadi dua kelompok besar lainnya, pembagian ini berdasarkan kepada ada tidaknya inti, baik yang sudah terdiferensiasi ataupun yang belum. Yaitu :

1.      Prokaryota, yaitu kelompok mikroba yang tidak mempunyai inti yang jelas atau tidak terdiferensiasi. Kedalam kelompok ini termasuk :

a)      Bakteria,

b)      Mikro-alga biru-hijau (BGA = blue-green algae),

2.      Karyota, yaitu kelompo mikroba yang sudah mempunyai inti yang jelas atau sudah terdiferensiasi. Kedalam kelompok ini termasuk :

a)      Jamur, termasuk didalamnya ragi,

b)      Mikro-alga lainnya

Walaupun ada kelompok kehidupan atau jasad lain yang dianggap hirup berdasarkan kepada bentuk dan sifatnya tidak sama dengan mikroba tetapi mengingat kepentingan dan asosiasi kehidupannya, ada dua kelompok besar lain yang umumnya dimasukkan kedalam Dunia Mikroba yaitu :

1.      Protozoa

2.      Virus

Klasifakasi Bakteri

Umumnya berbentuk 1-sel atau sel tunggal atau uniseluler, tidak mempunyai klorofil berkembangbiak dengan pembelahan sel atau biner. Karena tidak mempunyai klorofil, bakteri hidup sebagai jasad yang saprofitik ataupun sebagai jasad yang parasitik. Tempat hidupnya tersebar di mana-mana, sejak di udara, di dalam tanah, didalam air, pada bahan-bahan, pada tanaman ataupun pada tubuh manusia atau hewan.

Kriteria untuk Klasifikasi Bakteri

Kriteria sesuai untuk tujuan klasifikasi bakteri termasuk sifat-sifatnya telah diterangkan dalam bab terdahulu, informasi yang penting dapat diketahui secara mikroskopis dengan melihat lapisan sel dan ada atau tidaknya struktur khusus misalnya spora atau flagella. Prosedur pewarnaan seperti pewarnaan gram dapat memberikan perkiraan bakteri memiliki kekerabatan yang dekat. Hal ini merupakan petunjuk awal bahwa keragaman kimiawi DNA dari organisme yang berbeda dapat menjadi indikasi adanya kekerabata genetik. Studi fisik membuktian bahwa kekerabatan DNA dari organisme yang sama dapat dikenal dengan tingkat kemampuan kromosom DNA untuk dikawin silangkan.

Tabel . Tingkat Taksonomi

Tingkatan Resmi

Contoh

Kingdom

Prokaryotae

Divisi

Gracilicutes

Klas

Scotobacteria

Ordo

Eubacteriales

Famili

Entobacteriaceae

Genus

Escherichia

spesies

Coli

Penyusunan urutan DNA telah menjadi prosedur rutin di laboratorium dan perbandingan susunan DNA diantara beragam gen dapat menggambarkan hubungan mereka perbedaan susunan DNA diantara gen-gen yang tersebar secara cepat dapat digunakan untuk menentukan jarak genetik dari gen-gen yang berhubungan dekat, dan perbedaan susunan di antara gen-gen yang tersebar secara lambat dapat digunakan untuk mengukur hubungan dalam kelompok bakteri yang hubungannya jauh.

Ribosom memiliki pesan penting dalam sintesa protein. Gen penanda RNA ribosom dan protein ribosom telah diturunkan melalui evolusi dan telah disebarkan lebih lambat daripada gen kromosom lainnya. Perbandingan susunan dari 165S RNA ribosom dari berbagai sumber biologis menunjukkan adanya hubungan evolusi diantara organisme yang sangat beragam dan menunjukkan adanya kingdom baru, yaitu Arecbaebacteria.

Penemuan terbaru, hibridisasi DNA dengan rangkaian oligonukleotida padat telah digunakan untuk mengidentifikasi spesies.

Klasifikasi Virus

a.       Virus Bakterial

Bakterifage (fage) adalah virus yang menginfeksi bakteri dan hanya dapat bereproduksi di dalam sel bakteri. Kemudahan relatif dalam penangannya dan kesederhanaan infeksi fage bakteri membuatnya menjadi suatu sistem model bagi penelaahan patogenesitas virus maupun banyak masalah dasar di dalam biologi, termasuk biologi seluler dan molekular serta imunologi

Fage pada hakekatnya terdiri dari sebuah inti asam nukleat yang terkemas di dalam selubung protein pelindung. Reproduksi virus bakterial yang virulen mencakup urutan umum sebagai berikut : adsorbsi partikel fage, penetrasi asam nukleat, replikasi asam nukleat virus, perakitan partikel-partikel fage baru, dan pembebasan partikel-partikel fage ini di dalam suatu ledakan bersamaan dengan terjadinya lisis sel inang, fage-fage virulen telah digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi bakteri patogenik.

b.      Virus Hewan dan Tumbuhan

Virus hewan dan virus tumbuhan adalah parasit intraseluler obligat yang sangat kecil. Setiap virus mempunyai sebuah inti pusat asam nukleat dikelilingi oleh kapsid. Secara morfologis, virus hewan dan virus tumbuhan dapat ikosashedral, halikal bersampul atau kompleks.

Proses replikasi virus dimulai dengan melekatnya virion pada sel inang. Peristiwa ini disusul dengan penetrasi dan pelepasan selubung, biosintesis komponen-omponen virus dan perakitan serta pematangan virion. Proses ini diakhiri dengan pembebasan virus dari sel inang.

Sistem yang secara paling luas digunakan untuk klasifikasi virus terlihat pada sistem ini, yang diperkenalkan oleh A. Loff dan kawan-kawan dalam tahun 1962, virus dikelompokkan menurut sifat virionnya yaitu semacam asam nukleat, bentuk susunan kapsid, ada tidaknya selubung dan ukuran kapsid. Pembagian lebih lanjut didasarkan atas sifat-sifat lain virion itu, seperti sejumlah untaian asam nukleat (satu atau dua, sifat pertumbuhan virus, seperti sejumlah untaian asam nukleat (satu atau dua, sifat pertumbuhan virus, seperti kedudukan tempat sintesis virus di dalam sel dan hubungan timbal balik antara inang dan virus, seperti digambarkan oleh kisaran inang. Sistem ini dimaksudkan untuk menggambarkan klasifikasi alami atau filogenik, berarti sistem ini bukannya mencoba menggambarkan hubungan evolisoner atara virus-virus. Hubungan yang sama sekali tidak jelas melainkan sistem ini menggolongkan virus berdasarkan susunan biasa sifat-sifat kimiawi dan strukturnya yang merupakan sifat tetap yang dapat ditentukan dengan cermat.

Klasifikasi Jamur

Bentuknya sel tunggal (misal pada ragi), kemudian serat atau filamen (paling banyak di dapatkan), sampai dengan telah membentuk tubuh lengkap yang dinamakan tubuh-buah (misalkan pada jamur merang. Mushrooms, dan sabagiannya). Seperti bakteria, Jasad ini tidak mempunyai klorofil, karena dia hidup secara saprofik ataupun parasitik

Klasifikasi Alga-Hijau

Bentuknya sama seperti BGA, walaupun ada beberapa yang sudah mempunyai tubuh lengkap dengan bagian-bagian yang dinamakan akar batang dan daun walau semuanya bersifat semu (Chara dan Nitella).

Didapatkan dimana-mana, terutama pada tanah yang lembab, pada air, menempel pada tanaman ataupun bersifat endofitik (hidup di dalam jaringan jasad lain). Misal pada Hydra, atau menempel pada tubuh jasad lain (kulit kura-kura) sehingga kelihatannya hewan tersebut mempunyai klorofil karena berawarna hijau. Ada beberapa yang hidup secara simbiosis dengan jamur membentuk jasad baru yang disebut lichenes (lumut kerak).

Klasifikasi Alga-Biru Hijau

Berbentuk sel tunggal atau filamen (serat) yang disekelilingnya diselimuti oleh seludang yang terdiri dari lendir (polisakharida), atau berbentuk koloni sederhana.

Termasuk kedalam kelompok jasad yang fotosintetik karena mempunyai klorofil, disamping pigmen lainnya seperti fikobilin (biru), fukosantin (coklat) dan fukoeritrin (merah) hidup didalam air, di dalam tanah yang lembab atau bersimbiosis dengan jasad lain, sejak paku-pakuan (Azolla) didalam rongga udara daunnya, atau dengan tanaman tinggi (Cassuarina) dengan   membentuk akar karang

Peran mikroorganisme dalam khidupan

Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk, 2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk perngolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.
Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relative cepat (Darkuni, 2001). Oleh karena aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.

Peranan yang Merugikan

  • Penyebab penyakit, baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan

Misalnya Strptococcus pneumoniae penyebab pneumonia dan Corynebacterium diphtheriae penyebab dipteri.

  • Penyebab kebusukan makanan (spoilage)

Adanya kebusukan pada makanan dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri yang tumbuh dalam makanan tersebut. Beberapa di antara mikroorganisme dapat mengubah rasa beserta aroma dari makanan sehingga dianggap merupakan mikroorganisme pembusuk. Dalam pembusukan daging, mikroorganisme yang menghasilkan enzim proteolitik mampu merombak protein-protein. Pada proses pembusukan sayur dan buah, mikroorganisme pektinolitik mampu merombak bahan-bahan yang mengandung pektin yang terdapat pada dinding sel tumbuhan (Tarigan, 1988). Mikroorganisme seperti bakteri, khamir (yeast) dan kapang (mould) dapat menyebabkan perubahan yang tidak dikehendaki pada penampakan visual, bau, tekstur atau rasa suatu makanan. Mikroorganisme ini dikelompokkan berdasarkan tipe aktivitasnya, seperti proteolitik, lipolitik, dll. Atau berdasarkan kebutuhan hidupnya seperti termofilik, halofilik, dll.

Peranan yang Menguntungkan

Banyak yang menduga bahwa mikroorganisme membawa dampak yang merugikan bagi kehidupan hewan, tumbuhan, dan manusia, misalnya pada bidang mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang patogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Meskipun demikian, masih banyak manfaat yang dapat diambil dari mikroorganisme-mikroorganisme tersebut. Penggunaan mikroorganisme dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan. Beberapa manfaat yang dapat diambil antara lain sebagai berikut:

Bidang pertanian

Dalam bidang pertanian, mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan. Nitrogen bebas merupakan komponen terbesar udara. Unsur ini hanya dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan pengambilan khususnya melalui akar. Pembentukan nitrat dari nitrogen ini dapat terjadi karena adanya mikroorganisme. Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh beberapa genus bakteri secara sinergetik.

Kajian religi:

Surat An-Nur 45:

45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Surat An-Nahl 12:

12. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya).

Surat Al-Baqaroh 164:

164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

KESIMPULAN

Mikroorganisme merupakan suatu kelompok organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mata telanjang, sehingga diperlukan alat bantu untuk dapat melihatnya seperti mikroskop, lup dan lain-lain.

Klasifikasi adalah suatu istilah yang berkaitan dan sering kali digunakan atau dipertukarkadengan taksonomi.

Mikroorganisme terbagi menjadi dua kelopok yaitu:

1.      Karyota, yaitu kelompok mikroba yang sudah mempunyai inti yang jelas atau sudah terdiferensiasi.

2.      Prokaryota, yaitu kelompok mikroba yang tidak mempunyai inti yang jelas atau tidak terdiferensiasi.

Ciri-ciri utama suatu mikroorganisme yaitu:

a)      Morfologi

b)      Sifat Kimiawi

c)      Sifat Biakan

d)     Sifat Metabilisme

e)      Sifat Antigenik

f)       Sifat Genetik

g)      Patogenitas

h)      Sifat Ekologi

Mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan yaitu:

Peranan yang Merugikan

  • Penyebab penyakit, baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan

Misalnya Strptococcus pneumoniae penyebab pneumonia dan Corynebacterium diphtheriae penyebab dipteri.

  • Penyebab kebusukan makanan (spoilage)

Adanya kebusukan pada makanan dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri yang tumbuh dalam makanan tersebut. Beberapa di antara mikroorganisme dapat mengubah rasa beserta aroma dari makanan sehingga dianggap merupakan mikroorganisme pembusuk.

Peranan yang Menguntungkan

Contoh dalam bidang pertanian mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Anonymous. 2008. klasifikasi mikroba.(online) (http//www.pustaka.co.id) diakses tanggal 22 Desember 2008.

2.      Anonymous.2008.identifikasi mikroba.(online)(http//www.Pustaka.co.id) diakses tanggal 22 Desember 2008.

3.      Budiyanto Mak, 2008. Hand Out dan Klasifikasi Mikroba. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang

4.      Dwijoseputro, 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan

5.      Suriawira U, 1995. Pangantar Mokrobiologi Umum. Bandung : Angkasa

Categories: Pertanian | Leave a comment

Laporan Praktikum Perbanyakan Tanaman Perkebunan ::Tanaman Kopi

Kata Pengantar

Puji syukur kami sampaikan ke hadiran Allah Yang Maha Esa,  karena berkat kemurahanNya tugas laporan praktikum ini dapat saya selesaikan. Laporan ini akan membahas tentang kegiatan yang ada dalam praktikum perbanyakan tanaman perkebunan yang komoditi yang dipraktekan yaitu tanaman kopi.

Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen untuk memperdalam  pemahaman Tentang Perbanyakan tanaman Perkebunan yang saat ini sedang dipelajari dalam  perkuliahan.

Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Pekanbaru,    Desember 2010

Penyusun

LAPORAN PRAKTIKUM

PERBANYAKAN TANAMAN PERKEBUNAN

TANAMAN KOPI

BAB I

PROSEDUR KERJA

 

A.        Jalannya Praktikum :

  1. Persiapan tempat dimana tanah akan dijadikan media tanam dengan pekerjaan pertama melakukan pencangkulan
  2. Kemudian pemberian pupuk organik dan dicampur dengan tanah sehingga pupuk dapat tercampur dan kondisi tanah makin gembur sehingga unsur hara pada media tersedia dengan baik dan cukup
  3. Mengisi polybag dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk organik (kegiatan ini dilakukan seminggu sebelum dilakukannya penyetekan)
  4. Ukuran tinggi tanah pada polybag  2 cm dari bibir polybag
  5. Kemudian pada minggu selanjutnya dilakukan pekerjaan penyetekan, dengan langkah sebagai berikut;
  6. Pilihlah batang  kopi dari cabang autotrof / cabang perbanyakan
  7. Ambil bagian cabang pertengahan yang tidak terlalu tua atau terlalu muda
  8. Panjang ideal untuk bahan setek adalah ± 7-10 cm
  9. Potong bahan setek pada pangkal bagian ruas dengan dipotong miring sekitar 45 derajat, hal ini dilakukan untuk memperluas daerah perakaran.
  10. Kemudian kupil/potong bagian daun yang sepasang tersebut sekitar setengah dari luas daun, dilakukan untuk mengurangi laju transpirasi
  11. Setelah itu bahan setek tersebut diberi ZPT pada bagian bawahnya yaitu yang bakal menjadi akar untuk membantu mempercepat tumbuhnya akar.
  12. Lalu bahan setek ditanam dalam polibag yang telah disediakan
  13. Usahakan antara bahan setek satu dengan yang lain tidak bersenggolan daunnya, atau diatur jaraknya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

a)         Persiapan tempat untuk tanah yang akan dijadikan media tumbuh.

b)        Persiapan tempat untuk penempatan tanaman pada polybag yang berisi setek kopi.

c)         Dianjurkan dekat dengan tempat yang ada naungannya

d)        Dekat dengan perumahan dan sumber air

e)         Untuk minggu pertama melakukan pengolahan tanah dan mencampur dengan pupuk kandang serta pengisian polybag.

f)         Minggu kedua melakukan kegiatan penyetekan kopi dimana bahan tanaman yang telah didapatkan kemudian melakukan penyiraman dengan gayung atau gembor secukupnya, biasanya penyiraman paling ideal pada batas kapasitas lapang, sehingga tidak terlalu kurang atau kelebihan air

  1. B.        Pengamatan yang dilakukan :

Dalam praktikum ini yang harus diamati adalah sebagai berikut :

  1. Pengecekan kondisi tanah agar tidak kompak sebaiknya kita lakukan penggemburan kecil disekeliling tanaman dan penyiraman
  2. Kemungkinan terjadi layu, warna coklat, gugur daun, sebaiknya kita lakukan sulaman sesegera mungkin, karena bahan setek sangat rentan terhadap kondisi tempat yang baru.
  3. Kondisi batang apakah masih menunjukan warna hijau
  4. Kondisi daun apakah masih menunjukan warna hijau
  5. Kondisi bahan stek dari segala pengganggu pertumbuhan bahan setek, antara lain kekeringan misalnya, gangguan penyakit, jamur dll-nya sehingga sesering mungkin melakukan pengamatan.
  6. Pembuangan tunas wiwilan karena tunas ini sering tumbuh pada ketiak daun
  7. Menjaga kelembapan pada media tumbuh, lebih-lebih pada musim penghujan seperti sekarang ini

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.      Asal Tanaman Kopi

Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berkhasiat dan berenergi pertama kali ditemukan oleh Bangsa Etiopia di benua Afrika sekitar 3000 tahun (1000 SM) yang lalu. Penemuan kopi sendiri terjadi secara tidak sengaja ketika penggembala bernama Khalid mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan setelah matahari terbenam setelah memakan sejenis beri-berian. Ia pun mencoba memasak dan memakannya. Kebiasaan ini kemudian terus berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Afrika, namun metode penyajiannya masih menggunkan metode konvensional. Barulah beberapa ratus tahun kemudian biji kopi ini dibawa melewati Laut Merah dan tiba di Arab dengan metode penyajian yang lebih maju.Kopi kemudian terus berkembang hingga saat ini menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat. Indonesia sendiri telah mampu memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya.Di samping rasa dan aromanya yang menarik, kopi juga dapat menurunkan risiko terkena penyakit kanker, diabetes, batu empedu, dan berbagai penyakit jantung (kardiovaskuler).

B.        Syarat Tumbuh

Iklim yang Cocok untuk Tanaman Kopi 

Persyaratan iklim kopi Arabika : 

  • Garis lintang 6-9o  LU sampai 24o  LS.
  • Tinggi tempat 1250 s/d 1.850 m dpl.
  • Curah hujan 1.500 s/d 2.500 mm/th.
  • Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) 1-3 bulan
  • Suhu udara rata-rata 17-21o  C.

 

Persyaratan iklim Kopi Robusta : 

  • Garis lintang 20o  LS sampai 20o  LU.
  • Tinggi tempat 300 s/d 1.500 m dpl.
  • Curah hujan 1.500 s/d 2.500 mm/th.
  • Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) 1-3 bulan
  • Suhu udara rata-rata 21-24o  C.

 

Pengaruh angin : 

Pohon  tanaman  kopi  tidak  tahan  terhadap  goncangan  angin  kencang,  lebih dimusim kemarau. Karena angin itu mempertinggi penguapan air pada permukaan tanah perkebunan.  Selain  mempertinggi  penguapan,  angin  merebahkan pelindung yang tinggi, sehingga merusakkan tanaman  di bawahnya.

Keadaan Tanah

Sehubungan dengan tanah ini yang penting untuk dipelajari terutama sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah :

> Sifat fisik tanah 

Sifat fisik tanah meliputi: tekstur, struktur, air dan udara di dalam tanah.Tanah untuk tanaman  kopi  berbeda-beda,  menurut  keadaan  dari mana  asal  tanaman  itu. Pada  umumnya  tanaman  kopi  menghendaki  tanah  yang  lapisan  atasnya  dalam,  gembur,  subur,  banyak  mengandung  humus,  dan  permeable, atau  dengan  kata  lain  tekstur  tanah  harus  baik.

> Sifat Kimia Tanah 

Sifat kimia tanah yang dimaksud di sini ialah meliputi kesuburan tanah dan PH. Di  atas telah dikemukakan, bahwa  tanaman menghendaki tanah yang dalam, gembur dan banyak mengandung  humus. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan sifat kimia tanah, sebab satu sama lain saling berkaitan Tanah yang subur berarti  banyak mengandung  zat-zat  makanan  yang  dibutuhkan oleh  tanaman untuk pertumbuhan dan produksi.

  1. C.          Budidaya Secara Umum

           

            Persiapan Lahan

  • Untuk tanah pegunungan/miring buat teras.
  • Kurangi/tambah pohon pelindung yang cepat tumbuh kira-kira 1:4 hingga 1: 8 dari jumlah tanaman kopi.
  • Siapkan pupuk kandang matang sebanyak 25-50 kg, sebarkan Natural GLIO, diamkan satu minggu dan buat lobang tanam 60 x 60, atau 75 x 75 cm dengan jarak tanam 2,5×2,5 hingga 2,75 x 2,75 m minimal 2 bulan sebelum tanam

Pembibitan

  • Siapkan biji yang berkualitas dari pohon yang telah diketahui produksinya biasanya dari penangkar benih terpercaya.
  • Buat kotak atau bumbunan tanah untuk persemaian dengan tebal lapisan pasir sekitar 5 cm.
  • Buat pelindung dengan pelepah atau paranet dengan pengurangan bertahap jika bibit telah tumbuh.
  • Siram bibitan dengan rutin dengan melihat kebasahan tanah.
  • Bibit akan berkecambah kurang lebih 1 bulan, pilih bibit yang sehat dan lakukan pemindahan ke polibag dengan hati2 agar akar tidak putus pada umur bibit 2 -3 bulan sejak awal pembibitan.
  •  Tambahkan pupuk NPK sebagai pupuk dasar (lihat tabel) hingga umur 12 bulan.
  • Siramkan SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 liter air, ambil 250 ml per pohon dari larutan tersebut.
  • Setelah bibit umur 4 bulan semprotkan 2 tutup POC NASA per tangki sebulan sekali hingga umur bibit 7-9 bulan dan siap tanam

Tabel Dosis Pupuk Untuk Bibit Kopi

Catatan : Jenis dan dosis pupuk bisa sesuai dengan anjuran dinas pertanian setempat. Perhatikan kelembapan tanah agar bibit tidak terkena serangan karat daun.

Penanaman

  • Masukkan pupuk kandang dengan campuran tanah bagian atas saat penanaman bibit.
  • Usahakan saat tanam sudah memasuki musim hujan.
  • Lakukan penyiraman tanah setelah tanam
  • Hindarkan resiko kematian tanaman baru dari gangguan ternak.

Penyulaman

  • Lakukan penyulaman segera jika tanaman mati atau gejala pertumbuhannya tidak normal.
  • Penyulaman dilakukan awal musim hujan

Penyiraman

  • Lakukan penyiraman jika tanah kering atau musim kemarau

Pemupukan

  • Pemupukan NPK diberikan dua kali setahun, yaitu awal dan akhir musim hujan.
  • Setelah pemupukan sebaiknya disiram.

Jenis dan Dosis Pupuk Makro sesuai table.

Catatan : Jenis dan Dosis pupuk sesuai dengan jenis tanah atau rekomendasi dinas pertaniam setempat

Cara pemupukan dibuat lubang kecil mengelilingi tanaman sejauh ¾ lebar tajuk, pupuk dimasukan dan ditutup tanah. Akan lebih baik ditambah pupuk organik SUPERNASA dosis 1 botol untuk ± 200 tanaman . 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon atau siram atau kocorkan SUPERNASA 1 sendok makan per 10 liter air setiap 3-6 bulan sekali. Semprotkan POC NASA 3-4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 1 bulan sekali.

Pemangkasan

Lakukan pemangkasan rutin setelah berakhirnya masa panen (pangkas berat) untuk mengatur bentuk pertumbuhan, mengurangi cabang tunas air (wiwilan), mengurangi penguapan dan bertujuan agar terbentuk bunga, serta perbaikan bagian tanaman yang rusak. Pemangkasan pada awal atau akhir musim hujan setelah pemupukan.

Penanaman Penaung Tanaman Kopi 
Ditanami  minimal  satu  tahun sebelum  penanaman  tanaman kopi.

Syarat – syarat  Pohon  Penaung 

  • Memiliki  perakaran  yang  dalam
  • Memiliki  percabangan  yang  mudah  diatur.
  • Ukuran  daun  relatif  kecil  tidak  mudah  rontok  dan  memberikan  cahaya  diffus.
  • Termasuk  leguminosa  dan  berumur  panjang  dan berumur  panjang.
  • Menghasilkan  banyak  bahan organic
  • Tidak  menjadi  inang  hama- penyakit  kopi.

Penanaman pohon pelindung

a)      Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuaterlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis.

b)      Pohon pelindung ditanam 1 – 2 tahun sebelum penaman kopi, atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada.

c)      Jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro, dadap, sengon, dll.

Pengaturan pohon pelindung

a)      Tinggi pencabangan pohon pelindung diusahakan 2 x tinggi pohon kopi

b)      Pemangkasan pohon pelindung dilakukan pada musim hujan

c)      Apabila tanaman kopi dan pohon pelindung telah cukup besar, pohon pelindung bias diperpanjang menjadi 1 : 2 atau 1 : 4

Pengendalian Hama dan Penyakit

  1. Hama
  2. Bubuk buah kopi (Stephanoderes hampei) serangan di penyimpanan buah maupun saat masih di kebun . Pencegahan dengan PESTONA atau BVR secara bergantian
  3.  Penggerek cabang coklat dan hitam (Cylobarus morigerus dan Compactus ) menyerang ranting dan cabang. Pencegahan dengan PESTONA.
  4. Kutu dompolan (Pseudococcus citri) menyerang kuncup bunga, buah muda, ranting dan daun muda, pencegahan gunakan PESTONA, BVR atau PENTANA.+ AERO 810 secara bergantian
  1. Penyakit
  2. Penyakit karat daun disebabkan oleh Hemileia vastatrix , preventif semprotkan Natural GLIO
  3. Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh Corticium salmonicolor : Kurangi kelembaban , kerok dan preventif oleskan batang/ranting dengan Natural GLIO + POC NASA.
  4. Penyakit akar hitam penyebab Rosellina bunodes dan R. arcuata. Ditandai dengan daun kuning, layu, menggantung dan gugur. preventif dengan Natural GLIO.
  5. Penyakit akar coklat penyebabnya : Fomes lamaoensis atau Phellinus lamaoensis preventif dengan Natural GLIO.
  6. Penyakit bercak coklat pada daun oleh Cercospora cafeicola Berk et Cooke pencegahan dengan Natural GLIO
  7. Penyakit mati ujung pada ranting.Penyebabnya Rhizoctonia .Preventif gunakan Natural GLIO.

Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki

Panen

Kopi akan berproduksi mulai umur 2,5 tahun jika dirawat dengan baik dan buah telah menunjukkan warna merah yang meliputi sebagian besar tanaman, dan dilakukan bertahap sesuai dengan masa kemasakan buah.

Pengelolahan Hasil

Agar dipersiapkan terlebih dahulu tempat penjemuran, pengupasan kulit dan juga penyimpanan hasil panen agar tidak rusak akibat hama pasca panen. Buah panenan harus segera diproses maksimal 20 jam setelah petik untuk mendapatkan hasil yang baik.

Penyebab Kerusakan Kopi Beras :

1. Biji keriput        : asal buah masih muda

2. Biji berlubang   :kopi terserang bubuk

3. Biji kemerahan : Kurang bersih mencucinya

4. Biji pecah          : mesin pengupas kurang sempurna, berasal dari buah yang terserang bubuk, pada saat pengupasan dengan mesin kopi terlalu kering.

5. Biji pecah diikuti oleh perubahan warna: mesin penguap dan pemisah kulit dengan biji kurang sempurna, fermentasi pada pengolahan basah kurang sempurna.

6. Biji belang        : pengeringan tidak sempurna, terlalu lama disimpan , suhu penyimpanan terlalu lembab.

7. Biji Pucat          : terlalu lama disimpan di tempat lembab

8. Biji berkulit ari : Pengeringan tidak sempurna atau terlalu lama, pada pengeringan buatan suhu awal terlalu rendah.

9. Biji berwarna kelabu hitam : pada pengeringan buatan suhunya terlalu tinggi.
10. Noda-noda cokelat hitam : pada pengeringan buatan, kopi tidak sering diaduk/dibolak-balik.

BAB III

PEMBAHASAN

Membahas Tanaman yang diamati

  • Kondisi  bahan stek dari segala pengganggu pertumbuhan, kekeringan misalnya, gangguan penyakit, jamur dll-nya sehingga sesering mungkin kita melakukan pengamatan. Kegiatan turun lapangan sesering mungkin apat dilakukan agar hal-hal diatas dapat teratasi denga baik. Sehingga diperlukan rutinitas pengecekan  dan dianjurkan tempat perbanayakan penyetekan tadi dekat dengan perumahan agar dengan mudah kita melakukan pengontroalan.
  • Kondisi batang apakah masih menunjukan warna hijau. Pengamatan ini sesering mungkin karena dengan keadaan batang yang masih hijau kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan setek tadi masih hidup begitu juga dengan daun.
  • Pengecekan kondisi tanah agar tidak kompak sebaiknya kita lakukan penggemburan kecil disekeliling tanaman dan penyiraman. Tujuanya agar keadaan tanah tidak selalu kompak/ padat yang pada gilirannya akan meningkatkan infiltrasi pada saat hujan dan penyiraman serta memperlancar perkolasi udara tanah .
  • Kemungkinan terjadi layu, warna coklat, gugur daun, sebaiknya kita lakukan sulaman sesegera mungkin, karena bahan setek sangat rentan terhadap kondisi tempat yang baru. Sebelum melakukan kegiatan setek tadi sebaiknya kita lakukan stok bahan tanaman untuk setek dari kebun mana kita dapat, sehingga apabila setek pertama untuk kita mengalami hal diatas maka dengan segera kita dapat menggantikannya dengan selang waktu yang tidak lama.
  • Menjaga kelembapan pada media tumbuh, lebih-lebih pada musim penghujan. Agar terhindar dari serangan jamur dan aktifitas patogen lainya, sehingga tumbuh dengan optimal
  • Menjaga dari kekeringan pada musim kemarau dengan penyiraman. Agar tanaman tidak terjadi defisit kebutuhan air untuk pertumbuhannya
  • Pembuangan tunas wiwilan karena tunas ini sering tumbuh pada ketiak daun. Tujuannya agar tidak mengganggu petumbuhan dari tunas dan perakaran setek dalam hubungannya dengan tranportasi zat-zat makanan.
  • Pertumbuhan  dari gulma,Serangan dari hama,penyakit,jamur dan lainya. Kegiatan ini menunjang agar pertumbuhan bahan setek  baik. Dengan adanya tindakan preventif setidak mungkin kitat telah melakukan hal yang terbaik untuk kelanjutan pertumbuhannya .

KESIMPULAN

Dalam era perdagangan bebas, komoditas kopi sebagai bahan baku utama industri kopi bubuk, mutu menjadi penentu daya saing di pasar ekspor maupun dalam negeri. Dengan teknik budidaya yang baik dan sesuai maka bisa dihasilkan mutu produk (biji kopi) yang baik dan sesuai dengan kehendak konsumen. Hal tersebut perlu diperhatikan para pekebun kopi agar usaha taninya dapat berhasil baik, produksi kopinya tinggi dan pendapatan petani juga tinggi.

Ada empat faktor yang menentukan keberhasilan budidaya kopi, yaitu:

 
(1) teknik penyediaan sarana produksi,
(2) proses produksi/ budidaya,
(3) teknik penanganan pasca panen dan pengolahan (agroindustri)
(4) sistem pemasarannya.

Keempat faktor tersebut saling erat hubungannya agar budidaya kopi yang kita usahakan dapat memenuhi kulitas dan kuntitas yang diinginkan, sehingga prospek kedepan akan lebih baik,  baik itu dari pihak petani sampai pihak pengolah hasil serta produk-nya.

SARAN

Penyebaran budidaya kopi secara luas diindonesia sejauh ini  masih terpusat pada daerah-daerah dengan topografi yang berbukit, sehingga perlu ada upaya kedepan bagai mana budidaya kopi ini bisa menjamur keberbagai daerah seluruh indonesia. Melihat prospek dari hasil yang telah ada sangat menjanjikan, tinggal bagaimana petani kitu sendiri untuk membudidayakannya dengan pola yang baik, serta ada pihak-pihak yang selalu memberikan masukan tentang teknis budidaya kopi dengan baik tentunya .

DAFTAR PUSTAKA

AAK, Bercocok Tanam Kopi, Yayasan Kanisius, Yogya, 1980.

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kopi.html

Semangun Haryono, PENYAKIT TANAMAN PERTANIAN di Indonesia, Fak Pertanian  Univ. Gajah Mada, Yogya

Prianto,N., Budidaya Kopi (Jember : BPP Jember)

www.disbun.jabarprov.go.id

Direktorat Jenderal Perkebunan Direktorat Bin. Produksi, Buku Kegiatan Teknis Operasional Budidaya 1 (Jakarta : Direktorat Bina Produksi Ditjen Perkebunan, 1986).

 

Categories: Pertanian | Leave a comment

Makalah Mekanisasi Pertanian

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan pertanian peran alat dan mesin pertanian sangatlah menunjang dalam pengerjaan,pengelolaan,hingga pengolahan hasil pertanian menjadi lebih mudah. Oleh karena itu, di fakultas-fakultas pertanian setiap Universitas mengajarkan Mata kuliah Mekanisasi Pertanian begitu juga yang berada di Fakultas Pertanian di Universitas Riau mengajarkan tentang alat dan mesin pertanian.Untuk lebih memsinergikan ilmu teori dan praktek,maka juga dilaksanakan praktikum mekanisasi pertanian dengan dibimbing oleh seorang asisten. Dengan demikian diharapkan teori dan aplikasinya dilapangan lebih dapat dipahami.

Adapun alat dan mesin pertanian tersebut yaitu alat-alat dalam mengolah tanah seperti traktor dua roda, traktor empat roda, dll. Penggunaan alat-alat dan mesin pertanian ini  diharapkan mampu mengoperasikan traktor tersebut dilahan yang sudah disediakan oleh dosen atau fakultas. Dengan mata kuliah ini mahasiswa akan mempunyai bekal untuk mengoperasikan traktor tersebut di kemudian hari

1.2 Tujuan

Dalam pembuatan laporan ini bertujuan agar:

  • Ø Mahasiswa mengetahui jenis-jenis alat dan mesin pertanian
  • Ø Mahasiswa dapat mengoperasikan alat-alat dan mesin pertanian dengan baik dan benar
  • Ø Mahasiswa dapat menghitung efektifitas penggunaan peralatan dan mesin pertanian
  • Ø Mahasiswa mengetahui cara menanam cabe yang baik dan benar

1.3 Manfaat

Adapun manfaat dalam pembuatan laporan ini yaitu

  • Ø Laporan ini bisa menjadi pegangan bagi mahasiswa
  • Ø Akan didapatkan teknik pengoperasian alat dan mesin pertanian yang baik dan benar
  • Ø Diharapkan dapat menanam cabe yang baik

1.4 Sistematika Penulisan

Bab I     : Pada bab ini berisi tentang kenapa mempelajari mata kuliah mekanisasi pertanian ini.

Bab II    :    Pada bab ini berisi tentang definisi dari alat-alat dan mesin pertanian, serta kegunaannya bagi pertanian.

Bab III  :    Pada bab ini akan dijelaskan tentang alat-alat dan mesin pertanian yang akan digunakan dalam praktikum.

Bab IV  :    Pada bab ini akan dijelaskan tentang cara pengoperasian dari alat-alat dan mesin pertanian yang dilakukan saat praktikum.

Bab V    : Pada bab ini akan dijelaskan tentang cara perhitungan dari penggunaan alat-alat dan mesin pertanian tersebut

 

 

BAB II

TEORI DASAR

 

2.1 Definisi Traktor 2 Roda

Traktor tangan adalah traktor yang mempunyai poros roda tunggal dan dilengkapi motor penggerak satu silinder dengan daya antara 3-12 hp. Sebagai daya penggerak utamanya menggunakan motor diesel silinder tunggal.

Gambar 2.2: Traktor tangan

Keterangan:

  1. As (poros) roda
  2. Tuas kopling kemudi belok kanan
  3. Stang kemudi
  4. Tuas gas
  5. Kemudi pembantu
  6. Tuas persneleng utama
  7. Tuas kopling utama
  8. Tuas persneleng cepat lambat
  9. Tuas penyangga depan
  10. Gantungan pisasu rotary
  11. Pully penegang
  12. Penyangga depan
  13. Kerangka
  14. Pemberat depan
  15. Pully mesin
  16. V-belt
  17. Pully utama
  18. Penutup V-belt
  19. Gear box (rumah persneleng)
  20. Tutup kotak peralatan
  21. Tombol lampu dan bel
  22. Tuas kopling kemudi belok kiri
  23. Tuas persneling mesin rotari
  24. Ban

2.1.1 Ukuran Traktor 2 Roda Menurut Kapasitas

Berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

  1. Traktor tangan berukuran kecil, tenaga penggeraknya kurang dari 5 hp
  2. Traktor tangan berukuran sedang, tenaga penggeraknya antara 5 – 7 hp
  3. Traktor tangan berukuran besar, tenaga penggeraknya antara 7–12 hp

Pada saat praktikum kita menggunakan traktor tangan dengan merk Yanmar dengan spesifikasi yaitu:

1. Nama                        : Hand Traktor (traktor tangan)

2. Fungsi                       : Untuk mengolah, membalikkan tanah dan mengangkut hasil pertanian

3. Merk                         : Yanmar

4. Model/type               : YZA 120

5. Negara pembuat        : Jepang

6. Tahun pembuatan     : 1997

7. Dimensi                     : Panjang (2160 mm), lebar (730 mm), tinggi (1330 mm)

8. Jumlah Transmision Forward          : 6

9. Jumlah Transmision Reserver          : 3

Model

YST 90 DX

Dimensi

Berat total

Kg

130

Panjang

mm

2360

Lebar

mm

816

Tinggi

mm

1205

Transmisi

Tipe

Kombinasi gigi & rantai

Belok

Kopling samping

Maju

2

Mundur

1

Kecepatan

Maju

Km/jam

3,24/11

Mundur

Km/jam

2,1

Pengolahan

Lebar bajak

mm

300

Kedalam pembajak

mm

100-200

Kapasitas normal

Jam/ha

8,5-10,5

Model

TF 85 LY

Mak. Hp/rpm

8,5/2200

Isi langkah

cc

437

Isi tangki pendingin

L

1,65

Isi solar

L

10,5

Isi oli

L

2,2

Berat mesin

Kg

95

Puli mesin

mm

110/120 optional

Perlengkapan

Roda sangkar

Bajak singkal

Garu

Delebeg

Tabel 2.1: Spesifikasi atau data teknis dari traktor 2 roda

2.1.2 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dilakukan Traktor 2 Roda

Pekerjaan yang dilakukan traktor 2 roda biasanya pada lahan yang tidak bisa dilakukan oleh traktor 4 roda. Seperti contoh, pada lahan petak sawah yang ukuran petaknya kecil maka akan digunakan traktor 2 roda karena lebih efektif. Traktor 2 roda juga bisa dilakukan pada lahan yang luas dalam pengolahan pertama.

 

2.1.3 Komponen Utama Traktor 2 Roda

Komponen utama traktor tangan ada tiga, yaitu:

  1.  Tenaga penggerak motor
  2.  Kerangka dan transmisi atau penerus tenaga traktor tangan
  3.  Tuas kendaliTuas kendali dibedakan atas:
    • Tuas perneling utama traktor tangan
    • Tuas persneleng cepat lambat traktor tangan
    • Tuas kopling utama traktor tangan
    • Tuas persneleng mesin rotary traktor tangan
    • Tuas persneleng kemudi
    • Stang kemudi dan kemudi pembantu
    • Tuas gas traktor tangan
    • Tombol lampu dan bel traktor tangan
    • Tuas penyangga depan

2.1.4 Jenis-Jenis Alat Bantu Traktor 2 Roda

Adapun alat bantu pada traktor 2 roda yaitu:

  1. Bajak singkal adalah alat pengolah tanah pertama yang berfungsi untuk membalikkan irisan permukaan tanah.
  2. Bajak rotari atau bajak cakar adalah alat pengolah tanah yang berfungsi memotong dan mengaduk tanah, sehingga hasil tanah olahannya menjadi hancur atau berlumpur.
  3. Garu atau gelebeg adalah alat pengolah tanah kedua yang berfungsi untuk menghancurkan dan meratakan tanah
  4. Roda sangkar adalah jenis roda yang terbuat dari besi pipa dan plat yang berbentuk menyerupai sangkar. Fungsi roda sangkar adalah untuk meningkatkan daya cengkeram permukaan roda terhadap tanah, dengan demikian terjadinya slip dapat diatasi.
  5. Roda ban karet adalah jenis ban dari karet yang berfungsi untuk mendukung operasi traktor di lahan kering dan mendukung transportasi di jalan

2.2 Definisi Traktor 4 Roda

Traktor ini merupakan traktor yang mempunyai dua buah poros roda (beroda empat). Pada elemennya traktor jenis ini digerakkan oleh motor diesel dua silinder atau lebih, mempunyai 6 kecepatan (versneling) maju, dan 2 kecepatan mundur, yang dibedakan menjadi 4 macam kecepatan rendah (termasuk kecepatan mundur) dan 4 macam kecepatan tinggi (termasuk kecepatan mundur).

2.2.1 Ukuran Traktor 4 Roda Menurut Kapasitas

Berdasarkan daya penggeraknya, maka traktor dapat diklasifikasikan:

  1. Traktor mikro, <17 tenaga kuda (horsepower)
  2. Traktor mini, 17-29 hp
  3. Traktor sedang, 29-60 hp
  4. Traktor besar, 60-107 hp
  5. Traktor sangat besar, >107 hp

Model

Traktor Mini Seri TS

Tipe

RE 1201

RE 1501

Sistem penyalaan

Manual dari elektrik

Tenaga (Kw)

8,82

11,03

Panjang (mm)

2390

1570

Lebar (mm)

1160

1160

Tinggi (mm)

1300

1400

Ban depan (mm)

900

900

Ban belakang (mm)

960

960

Daya tarik (N)

2940

3430

Daya angkat (mm)

2940

3430

Berat (kg) persneling

785 kecepatan (km/jam)

805

I

1,90

2,09

II

4,42

4,87

III

5,96

6,55

IV

7,04

7,75

V

13,89

15,27

VI

22,09

24,30

Mundur

4,57

5,02

Putar (mm)

2600+200

2800+200

Tabel 2.2: Spesifikasi atau data teknis dari traktor 4 roda

2.2.2 Jenis Pekerjaan yang Bisa Dilakukan Traktor 4 Roda

Dalam pemakaian traktor 4 roda biasanya pekerjaan yang bisa dilakukannya yaitu untuk digunakan dalam pengolahan tanah (traktor standar), penanaman, pemupukan, pemeliharaan tanaman (traktor serba guna), transportasi, membongkar, mengangkut muatan (traktor industri). Sebagai contoh, sebaiknya dipergunakan traktor yang besar bila lahannya luas dengan ukuran petak lahan yang akan diolah besar, dan waktu kerja per tahun juga besar. Namun demikian, akan lebih efektif menggunakan traktor lebih kecil bila ukuran petak lahannya kecil. Traktor ukuran kecil juga lebih baik dipergunakan untuk lahan sawah yang ukuran petaknya lebih kecil. Traktor berpengerak empa-roda lebih baik dipergunakan pada lahan-lahan dengan tingkat kemiringan tinggi, banyak galengan/tanggul. Bila akan membajak lahan yang baru dibuka, dimana disana masih terdapat banyak batu dan tunggul, maka traktor dengan peralatan draft-control akan lebih baik dipergunakan.

2.2.3 Komponen Utama Traktor 4 Roda

Traktor empat roda terdiri dari komponen utama sebagai berikut:

  1. Enjin (engine)Enjin dari sebuah traktor roda empat umumnya dilengkapi dengan:
    • Ø Sistem bahan bakar.
    • Ø Sistem pelumasan.
    • Ø Sistem pendingin.
    • Ø Sistem listrik.
    1. Alat untuk penyaluran tenaga (power transmission device)
    1. Alat untuk kemudi (steering device)
    2. Alat untuk bekerja (working device)

2.2.4 Jenis dan Alat Bantu Traktor 4 Roda

Traktor roda empat merupakan mesin yang berfungsi untuk penghela ataupenarik peralatan. Untuk dapat digunakan sebagai mesin pengolahan tanah,maka harus dilengkapi dengan perlengkapan pengolah tanah, seperti bajaksingkal, bajak pirang, garu piring, alat penyemprot hama dan penyakittanaman, dll.

2.3 Motor Bakar

Motor bakar torak (piston) terdiri dari silinder yang dilengkapi dengan piston. Piston bergerak secara translasi (bolakbalik) kemudian oleh poros engkol dirubah menjadi gerakan berputar.

2.3.1 Motor 2 Tak

Adalah mesin yang memerlukan dua kali langkah torak (satu kali ke atas/ascending stroke dan satu kali ke bawah/discending stroke) untuk memperoleh satu kali usaha di ruang pembakaran

2.3.2 Motor 4 Tak

Motor 4 Tak adalah motor yang memerlukan empat kali langkah torak (dua kali ke atas dan dua kali ke bawah) untuk memperoleh satu kali usaha di ruang pembakaran

2.3.3 Motor Diesel

2.3.4 Motor Bensin

Ciri-ciri motor diesel yaitu:

  • Efisiensi panasnya tinggi.
  • Bahan bakarnya hemat.
  • Kecepatannya lebih rendah dibanding motor bensin.
  • Getarannya besar dan berisik.
  • Harganya lebih mahal.
  • Digunakan pada kendaraan niaga

Langkah Hisap

  • Ø Piston bergerak dari TMA ke TMB.
  • Ø Katup hisap terbuka.
  • Ø Katup buang tertutup.
  • Ø Terjadi kevakuman dalam silinder, yang menyebabkan udara murni masuk ke dalam silinder.

Langkah Kompresi

  • Ø Piston bergerak dari TMB ke TMA.
  • Ø Katup hisap tertutup.
  • Ø Katup buang tertutup.
  • Ø Udara dikompresikan sampai tekanan dan suhunya menjadi 30 kg/cm2 dan 500°C.

Langkah Usaha

  • Ø Katup hisap tertutup.
  • Ø Katup buang tertutup.
  • Ø Injektor menyemprotkan bahan bakar sehingga terjadi pembakaran yang menyebabkan piston bergerak dari TMA ke TMB.

Langkah buang

  • Ø Piston bergerak dari TMB ke TMA.
  • Ø Katup hisap tertutup.
  • Ø Katup buang terbuka.
  • Ø Piston mendorong gas sisa pembakaran keluar

Motor bensin bekerja dengan torak bolak balik (naik turun pada motor gerak). Keduanya bekerja pada prinsip 4 langkah dan prinsip ini umumnya digunakan pada teknik mobil. Untuk motor dengan penyalaan busi disebut motor bensin dengan menggunakan bahan bakar bensin (premium).

2.4 Oil Pelumas

Oil pelumas adalah zat cair dimana diantara dua permukaan yang bergerak untuk mengurangi gesekan antara mereka, meningkatkan efisiensi dan mengurangi keausan.  Ini juga mungkin memiliki fungsi melarutkan atau mengangkut partikel asing dan mendistribusikan panas.

Fungsi dari oil pelumas yaitu:

  • Ø Membentuk oil film untuk mengurangi gesekan, aus dan panas.
  • Ø Mendinginkan bagian-bagian yang dilewati.
  • Ø Sebagai seal antara piston dengan dinding silinder.
  • Ø Mengeluarkan kotoran dari bagian-bagian motor.
  • Ø Mencegah karat pada bagian-bagian motor

2.5 Macam-Macam Pola Bajak

Beberapa pola bajak, antara lain :

1. Pola Tengah

Pembajakan dilakukan dari tengah membujur lahan. Pembajakan kedua pada sebelah hasil pembajakan pertama. Traktor diputar ke kanan dan membajak rapat dengan hasil pembajakan pertama. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kanan sampai ke tepi lahan. Pola ini cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit.

2. Pola Tepi.

Pembajakan dilakukan dari tepi membujur lahan, lemparan hasil pembajakan ke arah luar lahan. Pembajakan kedua pada sisi lain pembajakan pertama. Traktor diputar ke kiri dan membajak dari tepi lahan dengan arah sebaliknya. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kiri sampai ke tengah lahan. Pola ini juga cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul).

3. Pola Keliling Tengah

Pengolahan tanah dilakukan dari titik tengah lahan. Berputar ke kanan sejajar sisi lahan, sampai ke tepi lahan. Lemparan pembajakan ke arah dalam lahan. Pada awal pengolahan, operator akan kesulitan dalam membelokan traktor

Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 sampai 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul).

4. Pola Keliling Tepi

Pengolahan tanah dilakukan dari salah satu titik sudut lahan. Berputar ke kiri sejajar sisi lahan, sampai ke tengah lahan. Lemparan pembajakan ke arah luar lahan. Pada akhir pengolahan,operator akan kesulitan dalam membelokan traktor.

Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul).

5. Pola Bolak-balik Rapat

Pengolahan dilakukan dari tepi salah satu sisi lahan dengan arah membujur. Arah lemparan hasil pembajakan ke luar. Setelah sampai ujung lahan, pembajakan kedua dilakukan berimpit dengan pembajakan pertama. Arah lemparan hasil pembajakan kedua dibalik, sehingga akan mengisi alur hasil pembajakan pertama. Pembajakan dilakukan secara bolak balik sampai sisi seberang.

Pola ini juga cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir.

2.6 Elemen Dasar Traktor

  1. a.    Kapasitas Lapang Teoritis

KLT = 0,36 (V x LP)

Keterangan:

KLT    : Kapasitas Lapang Teoritis (ha/jam)

V         : Kecepatan rata-rata (m/detik)

LP       : Lebar bajakan (m)

  1. b.   Kapasitas Lapang Efektif

Keterangan:

KLE    : Kapasitas lapang efektif (ha/jam)

L          : Luas lahan pengolahan tanah (m)

WK     : Waktu keja (jam)

  1. c.    Efisiensi Lapang
  1. d.   Bahan Bakar Terpakai

Keterangan:

BBT    : Bahan bakar terpakai (lt/ha)

BB       : Bahan bakar yang digunakan untuk mengolah tanah

L          : Luas tanah (ha)

  1. e.    Slip Roda Traksi

Keterangan:

SI        : Slip roda traksi

Sb        : Jarak tempuh traktor saat pengolahan tanah dalam lima putaran roda traksi (m)

So        : Jarak tempuh traktor tanpa beban dalam lima putaran roda traksi (m)

2.7 Definisi Alat Penyemprot

Sprayer (alat semprot) bertujuan untuk memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi. Biasanya digunakan untuk:

  1. Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama
  2. Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit
  3. Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma
  4. Menyemprotkan pupuk cairan
  5. Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu

2.7.1 Jenis-Jenis Alat Penyemprot

  • Ø Alat Semprot Dukung (Hand Sprayer atau Knapsack Sprayer) Semi Otomatis.
  • Ø Alat Semprot Dukung Otomatis (Kompressi)
  • Ø Alat Semprot Bermotor Berenaga Hidrolik Tipe Gotong (Power Sprayer)
  • Ø Alat Semprot Dukung Bermotor (Mist Blower)
  • Ø Alat Semprot Mikronair

2.7.2 Jenis-Jenis Nozel dan Kegunaannya

Adapun jenis-jenis nozel yaitu:

  • Ø Nozel Kerucut (Cone Nozzle), semprotan keluar dengan pola kerucut, biasanya digunakan untuk aplikasi insektisida dan fungisida. Ukuran droplet yang keluar sedang hingga halus
  • Ø Nozel Kipas (Fan Nozzle), semprotan keluar dengan pola kipas, biasanya dilakukan untuk aplikasi herbisida, kecuali nozel kipas yang flat, baik juga digunakan untuk insektisida dan fungisida. Ukuran droplet yang keluar agak kasar sampai sedang
  • Ø Nozel Polijet (Floodjet Nozzle), semprotan keluar seperti pola pada nozel kipas yang flat hanya cocok untuk aplikasi herbisida pra tumbuh. Ukuran droplet agak kasar sampai kasar.
  • Ø Nozel Tipe Senapan Spary Gun Nozzle), biasa digunakan pada power sprayer untuk aplikasi insektisida dan fungisida. Ukuaran droplet mulai dari kasar halus, tergantung pada tekanan pompa.
  • Ø Nozel Cakram Putar (Spinning Disc Nozzle), nozel ini biasa digunakan pada alat aplikasi micronair Ultra Low Volume (ULV), menghasilkan butiran semprot yang sangat halus.

 

 

 

 

 

 

BAB III

ALAT DAN BAHAN

 

3.1 Alat

3.1.1 Bajak Singkal (moldboard plow)

Bajak singkal merupakan peralatan pertanian untuk pengolahan tanah yang digandengkan dengan sumber tenaga penggerak/penarik seperti tenaga penarik sapi, kerbau atau traktor pertanian. Bajak singkal berfungsi untuk memotong, membalikkan, pemecahan tanah serta pembenaman sisa-sisa tanaman kedalam tanah, dan digunakan untuk tahapan kegiatan pengolahan tanah pertama. Bagian dari bajak singkal yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Suatu bajak dapat terdiri dari satu bottom atau lebih.

Bottom ini dibangun dari bagian-bagian utama, yaitu singkal (moldboard), pisau (share), penahan samping (landside). Ketiga bagian utama tersebut diikat pada bagian yang disebut pernyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan rangka (frame) melalui batang penarik (beam).

3.1.2 Bajak Rotary

Bajak rotari adalah bajak yang terdiri dari pisau-pisau yang berputar. Bajak ini terdiri dari pisau-pisau yang dapat mencangkul yang dipasang pada suatu poros yang berputar karena digerakan oleh suatu motor.

Ada tiga jenis bajak rotari yang biasa dipergunakam:

Tipe tarik dengan mesin tambahan (pull auxiliary rotary engine)

Tipe tarik dengan penggerak PTO (pull power take off driven rotary plow)

Bajak rotari tipe kebun berpenggerak sendiri (self propelled garden type rotary plow)

3.1.3 Stop Watch

Stop watch digunakan untuk mengukur berapa lama waktu yang digunakan traktor untuk membajak lahan tersebut. Dalam praktikum Mekanisasi Pertanian kemarin stop watch yang digunakan yaitu stop watch yang berada di handphone.

3.1.4 Meteran

Meteran digunakan untuk mengukur panjang lebar lahan yang akan dibajak oleh traktor. Meteran ini juga digunakan untuk mengukur panjang lahan yang akan digunakan untuk satu kelompok.

3.1.5 Gelas Ukur

Gelas ukur merupakan alat yang digunakan untuk mengukur takaran benda cair. Benda cair yang digunakan sewaktu praktikum yaitu solar.bensin, dan air.

3.1.6 Cangkul

Cangkul adalah satu jenis alat tradisional yang digunakan dalam pertanian. Cangkul digunakan untuk menggali ataupun untuk meratakan tanah. Saat praktikum kemarin cangkul digunakan untuk membuat bedengan.

3.1.7 Patok

Patok merupakan sepotong kayu yang digunakan para petani untuk batas ukuran suatu lahan. Biasanya kayu tersebut ditancapkan di atas tanah. Patok ini berfungsi supaya petani mengetahui lahan mana yang digunakan untuk pertaniannya

3.2 Lahan

Adapun lahan yang digunakan untuk praktikum mekanisasi pertanian yaitu lahan yang berada di UPT. Dimana satu kelas diberikan lahan dan diolah dengan menggunakan traktor.

BAB IV

PROSEDUR KERJA

 

4.1 Prosedur Umum

Bebarapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menghidupkan traktor

  • Traktor ditempatkan pada tempat yang datar, dengan ventilasi udara yang baik.
  • Traktor sudah diperiksa dan dalam kondisi baik

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat dan setelah mematikan traktor

  • Gas tidak perlu dinaik turunkan sebelum dimatikan
  • Dalam mematikan motor tidak perlu tergesa-gesa
  • Tuas dalam kondisi netral

 

4.1.1 Cara Menghidupkan Traktor 2 Roda

Adapun langkah-langkah menghidupkan traktor 2 roda :

  • Ø Tuas kopling utama diposisikan “OFF” atau “rem”, sehingga traktor tidak berjalan pada saat dihidupkan
  • Ø Semua tuas persneleng pada posisi netral.
  • Ø Buka kran bahan bakar, sehingga terjadi aliran bahan bakar ke ruang pembakaran
  • Ø Gas dibesarkan pada posisi “start”, sehingga ada aliran bahan bakar (solar) yang cukup banyak di ruang pembakaran.
  • Ø Tuas dekompresi ditarik dengan tangan kiri, untuk menghilangkan tekanan di ruang pembakaran pada saat engkol diputar
  • Ø Engkol dimasukkan ke poros engkol, lalu putar engkol searah jarum jam beberapa kali, agar oli pelumas dapat mengalir ke atas melumasi bagian-bagian traktor. Biasanya dilengkapi dengan indikator, untuk menunjukkan adanya aliran pelumas.
  • Ø Percepat putaran engkol, sehingga akan menghasilkan cukup tenaga untuk menghidupkan motor.
  • Ø Lepaskan tuas dekompresi, untuk menghasilkan tekanan, sementara engkol masih tetap diputar sampai motor hidup.
  • Ø Setelah motor hidup, engkol akan terlepas sendiri dari poros engkol. Hal ini disebabkan bentuk pengait engkol yang miring.
  • Ø Geser posisi tuas gas pada posisi “idle” atau stasioner
  • Ø Hidupkan motor tanpa beban kurang lebih selama 2-3 menit, agar proses pelumasan dapat berjalan dengan baik
  • Ø Traktor siap untuk dioperasikan

4.1.2 Cara Menghidupkan Traktor 4 Roda

Langkah-langkah dalam menghidupkan traktor 4 roda:

  • Naik ke atas traktor
  • Duduklah yang baik di tempat duduk, karena seluruh anggota badan, diperlukan untuk mengendalikan traktor.
  • Semua saklar dalam posisikan “OFF”, untuk menghemat strom accu pada saat kunci kontak pada posisi “ON”
  • Semua tuas dan pedal netral. Sehingga pada saat traktor dihidupkan, seluruh peralatan traktor tidak berjalan.
  • Masukkan kunci kontak dan putar ke kanan ke arah “ON”
  • Lihat, apakah lampu indikator pengisian accu dan indikator sirkulasi oli pelumas menyala.
  • Putar kunci kontak ke kanan ke arah “PREHEAT” selama kurang lebih 10 – 20 detik. Atau sampai indikator pemanas mesin berpijar, sebagai tanda ruang pembakaran sudah cukup panas. Dengan panasnya ruang pembakaran, akan mempermudah terjadinya proses pembakaran.
  • Injak penuh pedal kopling, untuk menjaga agar traktor tidak berjalan pada saat distater.
  • Geser tuas gas pada posisi “START” atau gas tinggi
  • Putar kunci kontak ke kanan penuh ke arah “START”, sehingga motor stater akan memutar motor penggerak.
  • Setelah motor hidup, segera lepaskan kunci kontak, sehingga kunci kontak secara otomatis kembali ke posisi “ON”. Untuk mematikan motor stater
  • Setelah motor hidup, lampu indikator pengisian accu dan indikator sirkulasi oli pelumas mati.
  • Kecilkan posisi gas ke idle
  • Lepaskan pedal kopling pelan-pelan

4.1.3 Cara Mematikan Traktor 2 Roda

  • Ø Lepaskan beban motor
  • Ø Kecilkan gas pada posisi “idle” atau stasioner, sehingga putaran mesin akan pelan, selama 2-3 menit.
  • Ø Geser tuas gas pada posisi “stop”, hingga motor mati karena tidak ada aliran bahan bakar ke ruang pembakaran.
  • Ø Tutup kran bahan bakar

4.1.4 Cara Mematikan Traktor 4 Roda

  • Lepaskan beban motor
  • Kecilkan gas pada posisi “idle” atau stasioner, sehingga putaran mesin akan pelan, selama 1 menit.
  • Netralkan seluruh bagian pengendali, tuas hidrolik pada posisi turun.
  • Geser tuas gas pada posisi “stop”, hingga motor mati karena tidak ada aliran bahan bakar ke ruang pembakaran.
  • Setelah motor mati, putar kunci kontak ke posisi “OFF”, lalu cabut
  • Pasang pengunci rem sebelum meningalkan traktor

4.1.5 Cara Mengoperasikan Traktor 2 Roda

Memulai menjalankan traktor tangan:

  • Ø Posisi gas digeser sedikit lebih besar dari posisi idle.
  • Ø Gigi persneleng dipindah ke posisi jalan (1,2,3 atau R). Untuk menarik implemen, jangan menggunakan gigi tinggi, agar operator tidak perlu lari
  • Ø Untuk menarik trailer, posisi stang kemudi diturunkan, agar tidak terjadi hentakan ke bawah pada saat traktor mulai jalan.
  • Ø Tuas kopling utama dilepas dengan tangan kiri pelan-pelan agar traktor tidak meloncat pada saat mulai jalan.
  • Ø Khusus untuk traktor yang menarik trailer, setelah traktor mulai jalan, stang kemudi bisa diangkat lagi

Menjalankan lurus ke depan:

  • Ø Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor tangan”
  • Ø Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada pada stang kemudi.
  • Ø Mata memandang ke depan.
  • Ø Gas diperbesar dengan ibu jari kanan sesuai keinginan.
  • Ø Jangan membelokkan stang kemudi
  • Jangan memindah posisi gigi persneleng dengan terburu-buru

Menghentikan traktor/parkir:

  • Ø Gas dikecilkan pada posisi idle.
  • Ø Tuas kopling utama ditarik pada posisi “OFF”. Lalu ditarik kembali pada posisi rem.
  • Ø Persneleng dinetralkan.
  • Ø Gas dikecilkan

Menjalankan lurus ke belakang:

  • Ø Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor tangan”
  • Ø Pada saat traktor berjalan, stang kemudi kiri dilepas, sementara tangan kanan masih memegang stang kemudi.
  • Ø Badan diputar ke kiri sedikit untuk melihat ke belakang.
  • Ø Gas diperbesar dengan ibu jari kanan sesuai keinginan.
  • Ø Jangan membelokkan stang kemudi.
  • Ø Bila traktor dilengkapi dengan implemen, melihat ke belakangnya cukup sekali-sekali. Sementara kedua tangan masih tetap memegang stang kemudi.

Mengganti gigi persneleng:

  • Ø Lakukan langkah menghentikan traktor
  • Ø Posisi kopling utama “OFF”.
  • Ø Pindahkan posisi gigi persneleng.
  • Ø Mulai menjalankan traktor lagi.

Catatan: Pada saat perpindahan gigi persneleng, traktor harus dalam posisi berhenti, karena biasanya traktor tidak dilengkapi dengan sinkronmes.

Membelokkan traktor pada jalan datar:

  • Ø Gas dikecilkan sebelum traktor dibelokkan.
  • Ø Tekan kopling kemudi kiri kalau mau belok ke kiri. Tekan kopling kemudi kanan kalau mau belok ke kanan.
  • Ø Kalau perlu tangan membantu menggeser stang kemudi.
  • Ø Pada saat mulai membelok jangan terlalu ke tepi, karena untuk haluan trailer.

Melintasi galengan/bedengan (dengan implemen):

  • Ø Posisi gigi persneleng rendah.
  • Ø Pada saat naik traktor berjalan maju, gas besar
  • Ø Pada saat turun traktor berjalan mundur, gas kecil
  • Ø Apabila galengan terlalu tinggi, buatlah jembatan penghubung dengan menggunakan papan

Melewati tanjakkan:

  • Ø Gigi persneleng dipindah ke posisi rendah sebelum melewati tanjakkan.
  • Ø Jalankan traktor, lalu gas diperbesar.
  • Ø Tidak boleh menarik tuas kopling utama

Melewati turunan (dengan trailer):

  • Ø Gigi persneleng dipindah ke posisi rendah sebelum melewati turunan.
  • Ø Jalankan traktor, gas jangan terlalu besar.
  • Ø Tidak boleh menarik tuas kopling utama

Membelokkan traktor pada jalan menanjak:

  • Ø Posisi gas tidak perlu dikecilkan
  • Ø Tekan tuas kopling kemudi sesuai keinginan, dan langsung dilepas setelah stang berbelok
  • Ø Ulangi penekanan tuas kopling apabila traktor kurang berbelok
  • Ø Tidak boleh menekan kopling kemudi terlalu lama

Membelokkan traktor pada jalan menurun

  • Ø Gas dikecilkan, namun jangan sampai mati
  • Ø Tekan tuas kopling kemudi berlawanan dengan keinginan , dan langsung dilepas setelah stang berbelok. Apabila akan berbelok kanan, tekan tuas kopling kemudi kiri, apabila akan berbelok kiri, tekan tuas kopling kemudi kanan.
  • Ø Ulangi penekanan tuas kopling kemudi apabila traktor kurang berbelok
  • Ø Tidak boleh menekan tuas kopling kemudi terlalu lama

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat menjalankan traktor:

  • Ø Pada lahan yang menanjak/menurun, kopling kemudi tidak boleh ditekan terlalu lama. Traktor akan cepat berbelok. Semakin tajam/terjal jalannya, semakin cepat traktor berbelok
  • Ø Untuk membelokkan traktor pada lahan yang menanjak/menurun, apabila memungkinkan cukup dengan menekan/menggeser stang kemudi, tanpa menekan tuas kopling kemudi
  • Ø Apabila parkir di tempat yang miring, sebaiknya roda diganjal.
  • Ø Pada saat naik, traktor dengan implemen berjalan maju, pada saat turun, traktor dengan implemen berjalan mundur, apabila terbalik bisa terjadi kecelakaan, traktor akan menungging

4.1.6 Cara Mengoperasikan Traktor 4 Roda

Memulai menjalankan traktor roda empat:

ü Lakukan langkah menghidupkan traktor

ü Posisi gas digeser sedikit lebih besar dari posisi idle.

ü Tuas rem parkir dilepas

ü Pedal kopling diinjak penuh

ü Tuas persneleng cepat lambat dibindah ke posisi “cepat” atau “lambat”

ü Tuas persneleng utama dipindah ke posisi jalan (1,2,3 atau R).

ü Pedal kopling utama dilepas pelan-pelan agar traktor tidak meloncat pada saat mulai jalan.

Menjalankan lurus ke depan:

  • Ø Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor roda empat”
  • Ø Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada pada kemudi. Posisi ibu jari keluar.
  • Ø Mata memandang ke depan.
  • Ø Gas diperbesar untuk mempercepat jalannya traktor sesuai keinginan.
  • Ø Kedua kaki dipindah ke landasan, jangan di pedal gas, kopling atau rem.
  • Ø Jangan membelokkan stang kemudi
  • Ø Jangan memindah posisi gigi persneleng

Menghentikan traktor:

  • Gas dikecilkan pada posisi idle untuk mengurangi kecepatan
  • Injak pedal kopling sehingga posisi transmisi terlepas
  • Injak pedal rem, traktror akan berhenti.
  • Persneleng utama dan persneleng cepat lambat dinetralkan.

Menjalankan lurus ke belakang.:

Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor roda empat”

Badan diputar ke kiri atau ke kanan sedikit untuk melihat ke belakang.

Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada pada kemudi.

Mata memandang ke belakang.

Gas diperbesar untuk mempercepat jalannya traktor sesuai keinginan.

Jangan membelokkan stang kemudi

Jangan memindah posisi gigi persneleng

Menjalankan lurus ke belakang dengan trailer:

  • Gunakan gigi yang rendah
  • Perhatikan selalu ujung trailer
  • Pada saat trailer akan berbelok ke kiri, putar stir sedikit ke kiri, lalu kembalikan saat trailer mulai lurus kembali.
  • Pada saat trailer akan berbelok ke kanan, putar stir sedikit ke kanan, lalu kembalikan saat trailer mulai lurus kembali.

Mengganti gigi persneleng:

  • Lakukan langkah menghentikan traktor
  • Pindahkan posisi gigi persneleng sesuai kecepatan yang diinginkan.
  • Mulai menjalankan traktor lagi.

Catatan: Pada saat perpindahan gigi persneleng, traktor harus dalam posisi berhenti, karena biasanya traktor tidak dilengkapi dengan sinkronmes

Membelokkan traktor di jalan

  • Gas dikecilkan sebelum traktor dibelokkan.
  • Biarkan setengah badan traktor melewati belokan
  • Putar stir kemudi ke kanan atau ke kiri
  • Pada saat mulai membelok jangan terlalu ke tepi, karena untuk haluan.

Membelokkan traktor dengan trailer secara mundur (misalnya ke kanan):

  • Posisi traktor di tengah jalan ada saat akan berbelok
  • Putar stir ke kiri sehingga trailer akan berbelok ke kanan
  • Setelah trailer mulai masuk ke belokan jalan, putar dengan cepat stir ke kanan
  • Pada saat traktor dan trailer posisinya mulai satu sumbu (setelah berbalok), stir diluruskan kembali

Membelokkan traktor ke jalan (gang) yang sempit:

  • Ø Sebelum berbelok, putar stir berlawanan arah dengan arah belok
  • Ø Pada saat akan berbelok putarlah stir dengan cepat, sehingga traktor berbelok dengan tajam
  • Ø Pada saat traktor akan memasuki gang yang sempit, posisinya sudah tidak berbelok lagi.

Membelokkan traktor dari jalan (gang) yang sempit:

Jalankan traktor sampai seluruh badan traktor keluar dari gang sempit

Mulailah berbelok

Melewati tanjakkan:

  • Ø Gigi persneleng dipindah ke posisi rendah sebelum melewati tanjakkan.
  • Ø Jalankan traktor, lalu gas diperbesar secara pelan-pelan, untuk mencegah roda depan terangkat
  • Ø Tidak boleh memindah gigi persneleng pada saat menanjak.

Melewati turunan:

ü Gigi persneleng dipindah ke posisi rendah sebelum melewati turunan.

ü Jalankan traktor, gas jangan terlalu besar.

ü Tidak boleh memindah gigi persneleng pada saat menurun.

ü Hindari penggunaan rem secara berlebihan, biarkan mesin mengerem sendiri

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat menjalankan traktor.:

  • Ø Pastikan kunci rem kiri kanan terpasang, pada saat dijalankan di jalan
  • Ø Apabila parkir ditempat yang miring, sebaiknya roda diganjal.
  • Ø Pada saat menjalankan traktor, kaki tidak boleh di atas pedal rem dan pedal kopling
  • Ø Apabila traktor digandeng dengan implemen, implemen dinaikkan dahulu sebelum traktor dijalankan di jalan
  • Ø Jangan menuruni lereng dengan kopling kosong. Dapat menyebabkan kehilangan kontrol, kecepatan yang melampaui batas, kopling rusak
  • Ø Jangan menggunakan kunci differensial pada saat traktor di jalan
  • Ø Jangan menggunakan gardan depan pada saat traktor di jalan
  • Ø Pada saat menjalankan traktor dengan trailer, (terutama pada saat mundur), hati-hati jangan sampai batang trailer mengenai roda belakang raktor.
  • Ø Gunakan saklar lampu apabila mengendarai di jala raya.
  • Hindari menjalankan traktor di dekat jurang/ parit

Pemeriksaan pada saat traktor dioperasikan:

ü Lampu indikator pengisian accu, sirkulasi oli pelumas dan temperatur air pendingin harus tetap mati, apabila hidup, hentikan traktor dan matikan motor

ü Bunyi dan bau traktor yang tidak wajar. Apabila ada bunyi yang tidak wajar dan bau barang terbakar,segera matikan traktor dan lacak sumbernya

ü Tengok kondisi bahan bakar, jangan sampai kehabisan

ü Warna gas buang. Bila knalpot mengeluarkan asap tebal atau kelabu, tanyakan pada teknisi perawatan.

4.2 Proses Bajak Singkal Traktor 2 Roda

Siapkan posisi bajak singkal pada lahan yang akan dibajak. Jalankan traktor tersebut. Pada saat bajak bergerak maju, maka pisau (share) memotong tanah dan mengarahkan potongan/keratan tanah (furrow slice) tersebut ke bagian singkal. Singkal akan menerima potongan tanah, dan karena kelengkungannya maka potongan tanah akan dibalik dan pecah. Kelengkungan singkal ini berbeda untuk kondisi dan jenis tanah yang berbeda agar diperoleh pembalikan dan pemecahan tanah yang baik.

4.2.1 Proses Bajak Rotari Traktor 2 Roda

Pisau-pisau dipasang pada rotor secara melingkar hingga beban terhadap mesin merata dan dapat memotong tanah secara bertahap. Pada waktu rotor berputar dan alat bergerak maju pisau akan memotong tanah. Luas tanah yang terpotong dalam sekali pemotongan tergantung pada kedalaman dan kecepatan maju. Gerakan putaran rotor yang memutar pisau-pisau diakibatkan daya dari motor yang diteruskan melalui sistem penerusan daya khusus sampai ke rotor tersebut. Sistem penerusan daya untuk ukuran bajak putar kecil yang digerakkan dengan traktor tangan biasanya menggunakan sistem hubungan roda cakra dengan rantai.

4.3 Proses Bajak Singkal Traktor 4 Roda

Proses pemakaian bajak singkal traktor 2 roda tidak berbeda jauh dengan bajak singkal traktor 4 roda. Hanya saja bila bajak singkal bekerja memotong dan membalik tanah maka akan terbentuk alur yang disebut furrow. Bagian tanah yang diangkat dan diletakkan kesamping, disebut keratan tanah (furrow slice). Bila pekerjaan dimulai dari tengah areal secara bolak-balik dan arah perputaran ke kanan, maka akan berbentuk alur balik (Back furrow). Bila pekerjaan bolak balik dimulai dari tengah dan arah perputaran ke kiri, maka akan terbentuk alur mati (Dead furrow). Pembalikan tanah umumnya kekanan.

4.4 Proses Pembuatan Bedengan

  • Siapkan terlebih dahulu alat yang akan digunakan
  • Lahan yang akan dibuat bedengan terlebih dahulu dibersihkan
  • Setelah bersih, lahan tersebut dicangkul
  • Setelah dicangkul, buatlah bedengan tersebut dengan panjang 23 m, lebar 1 m, dan tinggi 30 cm.

BAB V

PEMBAHASAN

No

Pengamatan

Ulangan

Hand Traktor

Mini Traktor

Singkal

Rotary

Singkal

Rotary

1

Lebar Bajakan

1

0.4 m

0.55 m

2

0.4 m

0.44 m

3

0.42 m

0.58 m

4

0.38 m

5

0.35 m

Rerata

0.39 m

0.523m

2

Kecepatan

1

0.181m/s

0.116 m/s

2

0.314m/s

0.342 m/s

3

0.3m/s

0.352 m/s

4

0.229m/s

5

0.179m/s

Rerata

0.241m/s

0.27 m/s

3

KLT

0.477m2/s

4

Luas Lahan

100 m2

131.75 m2

5

Waktu Kerja

0.288 jam

6

KLE

0.0347 ha/jam

7

Bahan Bakar Terpakai

30 lt/ha

8

5 putaran Roda Fraksi

-saat pengolahan

4.34 m

-Tanpa Beban

7.68 m

9

SI

43.5 %

Tabel 5.1: Data hasil pengamatan

1 Traktor 2 Roda

5.1.1 Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT)

KLT       = 0.36 (V x LP)

= 0.36 (0.241 m/s x 0.39 m)

= 0.477 m2/s

5.1.2 Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)

KLE      =  l:wk

= 100 m2:0,288 m2/jam

= 347.2 m2/ jam

= 0.0347 ha/jam

5.1.3 Efisiensi Lapangan (%)

Eff =0,0347 : 0,477 x 100%

= 7,27 %

5.1.4 Bahan Bakar Terpakai  (lt/ha)

BBT      = BB/L

= 03 lt/0,01 ha

= 30 lt/ha

5.1.5 Slip Roda Traksi (%)

SI = (1- sb/so)x 100%

= ( 1-4,34/7,68 )x 100%

= 0.435 x 100%

= 43.5 %

5.2 Traktor 4 Roda

5.2.1 Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT)

KLT       = 0.36 (V x LP)

= 0.36 (0.241 m/s x 0.39 m)

= 0.477 m2/s

5.2.1. Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)

KLE  =  L/WK

=  100 m2/0,288 jam

= 347.2 m2/ jam

= 0.0347 ha/jam

5.2.1. Efisiensi Lapangan (%)

Eff   = 0,0347/0,477×100%

= 7,27 %

5.2.3 Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)

BBT    = BB/L

= 0,3 lt/0,01 ha

= 30 lt/ha

 

5.2.4 Slip Roda Traksi (%)

SI = ( 1-sb/so)x100%

= ( 1- 9/8.5 )

= 43.5 %

BAB VI

PENUTUP

 

6.1 Kesimpulan

Alat-alat dan mesin pertanian yang berada di UPT merupakan alat-alat yang digunakan untuk praktikum Mekanisasi Pertanian. Adapun alat-alatnya yaitu traktor 2 roda, traktor 4 roda, alat penyemprot, dll.

Traktor dua roda adalah traktor yang mempunyai poros roda tunggal dan dilengkapi motor penggerak satu silinder dengan daya antara 3-12 hp. Sebagai daya penggerak utamanya menggunakan motor diesel silinder tunggal. Pada traktor dua roda digunakan alat tambahan yaitu bajak singkal dan bajak rotari. Dimana bajak singkal dan bajak rotari digunakan untuk pengolahan lahan pertama.

Traktor empat roda merupakan traktor yang mempunyai dua buah poros roda (beroda empat). Pada elemennya traktor jenis ini digerakkan oleh motor diesel dua silinder atau lebih, mempunyai 6 kecepatan (versneling) maju, dan 2 kecepatan mundur, yang dibedakan menjadi 4 macam kecepatan rendah (termasuk kecepatan mundur) dan 4 macam kecepatan tinggi (termasuk kecepatan mundur). Pada traktor ini digunakan alat tambahan yaitu bajak singkal.

Lahan yang telah diolah menggunakan traktor, lalu dibuat bedengan dan ditanam dengan tanaman cabai.

6.2 Saran

Alat-alat dan mesin yang digunakan untuk praktikum terbatas sehingga dalam pemakaian alat-alat tersebut harus bergantian. Padahal jumlah mahasiswa tidak sebanding dengan jumlah alat yang disediakan. Sehingga ada mahasiswa yang tidak dapat memakai alat-alat tersebut. Sebaiknya asisten dapat membagi dalam pemakaian alat tersebut. Atau asisten dapat memanggil mahasiswa satu persatu dalam menggunakan alat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Penuntun praktikum Mekanisasi Pertanian, Laboratorium Teknik Pertanian Fakultas Pertanian UNRI, 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Traktor diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 14.00

http://nurshuhada2010.multiply.com/journal/item/13 diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 14.14

http://www.ideelok.com/alat-dan-mesin/bajak-singkal diakses pada tanggal 14 April 2011 jam 14.57

http://www.ideelok.com/alat-dan-mesin/traktor-tangan diakses pada tanggal 15 April 2011 jam 11.00

http://www.ideelok.com/alat-dan-mesin/handsprayer-alat-penyemprot-pertanian diakses pada tanggal 15 April 2011 jam 11.22

http://www.ideelok.com/alat-dan-mesin/bajak-singkal diakses pada tanggal 16 April 2011 jam 09.00

http://www.ideelok.com/alat-dan-mesin/traktor-roda-empat diakses pada tanggal 16 April 2011 jam 09.10

http://teknoperta.wordpress.com/2008/09/15/bajak-singkal-2/ diakses pada tanggal 16 April 2011 jam 10.00

Categories: Pertanian | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

alifahtanti

Coba tanya pada rumput yang bergoyang

Chargers Blog

Official Blog of the San Diego Chargers

My Life as a Runner

"Pain is inevitable. Suffering is optional." - Buddhist Aphorism

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

rony astrajingga'

Untuk saling berbagi.......

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.